- Penulis: Maolana Akhsan
- Panjang: 30 halaman
Halaman 21
Hari Jumat siang, setelah pulang sekolah, rumah berubah menjadi dapur besar. Mama mulai mencoba resep keripik bayam dan terong. Dapur penuh dengan aroma bawang putih, tepung, dan minyak panas.
Laila membantu merendam daun bayam dalam adonan. Rizal berdiri di bangku kecil, tugasnya satu: mengibas-ngibaskan kipas supaya minyak tak terlalu panas menyengat.
“Kalau warnanya udah kuning keemasan, angkat ya, Kak,” kata mama sambil memantau wajan.
“Siap, Chef!” jawab Laila penuh semangat.
Setelah satu jam, keripik-keripik mungil itu ditiriskan di tampah besar. Mama mencicipi satu. “Hmm… renyah! Tapi kurang sedikit garam.”
Rizal ikut mencicipi diam-diam, lalu berseru, “Enak! Tapi Rizal lebih suka kalau nanti dikasih rasa keju.”
Laila tertawa. “Itu bukan keripik, itu cemilan!”
Malam harinya, mereka mengemas keripik hasil uji coba ke dalam plastik kecil, menempelkan stiker bertuliskan:
"Keripik Kebun Mama – Renyah Dari Rumah."
Mama tampak bahagia—lebih dari sejak kehilangan pekerjaan minggu lalu. “Ternyata enak juga kerja di rumah,” katanya sambil menata hasil produksi pertama di meja makan.
Di sisi lain rumah, Laila membuka celengannya. Bukan untuk menambahkan uang, tapi untuk mengambil sebagian kecil darinya.
Rizka, yang baru datang sore itu untuk main, heran melihat Laila membuka celengan.
“Mau beli apa, La?”
Laila menoleh sambil tersenyum. “Mau beli plastik kemasan dan stiker buat bantu usaha mama. Kan Kakak juga pakai hasil kebun.”
Rizka mengangguk, matanya berbinar. “Kalau gitu, aku bantu jual keripiknya ke rumah tetangga, ya!”
Esoknya, proyek kecil itu berjalan. Rizka keliling membawa kantong berisi keripik, Laila tetap urus kebun dan bantu mama. Ayah membantu mengurus desain label yang dicetak dari printer lama yang sudah hampir pensiun. Bahkan Rizal ikut sibuk menempel stiker—walau sering terbalik.
Hari Minggu sore, mereka berkumpul di ruang tengah. Hasil penjualan hari itu dihitung bersama: Rp46.000 dari lima bungkus keripik.
“Lumayan banget buat pertama kali,” kata mama sambil mencatat.
Ayah menambahkan, “Kita belum kaya. Tapi kita udah merasa cukup.”
Laila memandangi semua yang duduk di sekelilingnya—keluarganya, sahabatnya, adiknya yang menjilat sisa keripik dari jari. Ia merasakan sesuatu yang berbeda. Hangat. Penuh.
Lalu ia membuka halaman baru di buku impiannya dan menulis:
“Aku memang belum sampai ke Malaysia. Tapi setiap langkah kecil di rumah ini… ternyata sudah membuatku merasa sampai.”
Dan saat malam tiba, Laila berdiri di jendela kamarnya, memandangi langit gelap penuh bintang.
Pesawat mungkin belum datang.
Tapi lintasan terbangnya… sudah mulai terbuka.
Halaman 22
Hari Senin pagi, saat Laila bersiap berangkat sekolah, mama memanggilnya dari dapur. “Kak, sebentar!”
Laila mendekat dengan ransel sudah di punggung. “Ada apa, Ma?”
Mama tersenyum lebar sambil menunjukkan ponselnya. Di layarnya, tampak sebuah pesan masuk dari seseorang tak dikenal.
"Bu, keripiknya enak sekali. Bisa pesan 20 bungkus untuk acara pengajian minggu depan?"
“Lihat ini, Kak!” kata mama girang. “Pesanan besar pertama!”
Laila terkesiap. “Dua puluh?!”
“Iya! Mama nggak nyangka. Katanya dia dapat dari tetangganya yang beli satu bungkus dari Rizka.”
“Rizka itu emang marketer handal,” sahut Laila sambil tertawa.
Hari itu, Laila pergi ke sekolah dengan semangat berbeda. Bukan cuma karena berhasil membantu mama, tapi karena ia mulai mengerti satu hal penting: bahwa kadang jalan menuju mimpi tidak lurus—kadang berbelok, kadang harus memutar. Tapi bukan berarti itu jalan yang salah.
Di sekolah, Bu guru memanggil Laila ke ruang guru saat istirahat.
“Laila, sini sebentar ya. Ibu ingin ngobrol.”
Deg-degan, Laila mengikuti Bu guru. Ia duduk di kursi kecil di depan meja besar yang penuh kertas-kertas dan buku raport.
“Ada apa, Bu?” tanya Laila pelan.
Bu guru mengeluarkan secarik formulir. “Kecamatan mau pilih satu murid untuk program Anak Tangguh Desa. Ini program khusus untuk anak-anak yang punya semangat dan kontribusi nyata buat lingkungan sekitar.”
Laila melongo. “Aku?”
“Iya. Ibu pikir kamu cocok. Kamu bantu kebun, jual hasil panen, tulis cerita inspiratif, dan sekarang bantu usaha ibumu. Kamu layak.”
Laila tak bisa berkata-kata. Tapi matanya sudah menjawab segalanya.
Hari itu, sepulang sekolah, Laila tidak langsung ke rumah. Ia mampir ke lapangan kecil di belakang sekolah, tempat biasanya anak-anak bermain bola atau layangan. Ia duduk di ayunan, sendirian.
Dan untuk pertama kalinya… ia menangis.
Bukan karena sedih. Tapi karena selama ini ia berpikir: mimpinya terlalu besar. Ternyata tidak. Yang besar… adalah keberanian kecilnya yang tumbuh setiap hari.
Ketika pulang, Rizal menyambut dari pintu depan sambil menjerit, “Kak Laila! Tadi pesawat lewat dua kali!”
Laila tersenyum. “Iya? Kakak ketinggalan ya…”
“Nggak apa-apa,” jawab Rizal santai. “Nanti kita kejar bareng.”
Malam harinya, Laila menulis sesuatu di halaman paling belakang buku impiannya—halaman yang sengaja ia kosongkan sejak awal.
“Ternyata, menjadi bagian dari keluarga yang saling bantu itu adalah perjalanan yang lebih berharga dari pergi jauh. Tapi Kakak masih mau terbang. Bukan untuk pergi dari rumah, tapi untuk membawa nama rumah ini lebih tinggi.”
Ia menutup bukunya, meniup lampu belajarnya, dan tidur dengan senyum yang dalam.
Dan di luar jendela, langit malam begitu jernih.
Seolah bintang pun ikut mengucapkan:
"Ayo, Kak. Kita lanjutkan terbangnya."
Halaman 23
Beberapa hari kemudian, rumah Laila mendadak lebih ramai dari biasanya.
Bukan karena keramaian pasar, tapi karena mama resmi menerima bantuan modal dari pelatihan kecamatan. Sejumlah bahan baku dikirim ke rumah: tepung satu sak, kemasan plastik polos, bahkan alat penggorengan baru.
“Sekarang Mama punya mitra!” seru mama sambil tertawa. “Namanya… Laila & Co!”
Laila terkekeh. “Wah, Kakak jadi pengusaha juga dong?”
“Bukan cuma kamu,” sahut ayah dari pojok ruang tamu. “Rizal juga mau jadi direktur bagian tester dan pengiriman!”
“Aku yang naik sepeda keliling, ya!” teriak Rizal sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi.
Hari-hari mereka menjadi lebih sibuk, tapi bukan sibuk yang bikin lelah. Melainkan sibuk yang bikin hati penuh. Pagi sebelum sekolah, Laila bantu memasukkan keripik ke plastik, menulis label satu per satu. Sore, Rizka datang untuk bantu mengantar pesanan.
Pada suatu sore, Rizka masuk rumah sambil terengah-engah. “La! Tadi aku antar keripik ke rumah Pak RT. Terus beliau bilang pengen pesen khusus buat acara Agustusan nanti!”
Laila yang sedang menyiram kangkung langsung menoleh. “Beneran?”
“Iya! Dua lusin, katanya. Tapi dia mau minta dikasih nama baru: ‘Keripik Merdeka’!”
Ayah yang sedang mencetak label dari komputer tuanya langsung menyahut, “Wah, harus bikin desain baru nih. Ada merah-putihnya!”
Mama mengangguk penuh semangat. “Besok kita coba ganti bumbunya sedikit. Biar khas banget.”
Laila terdiam sejenak. Ia berdiri di pinggir kolam, memandangi ikan-ikan kecil yang berenang pelan. Semua ini berawal dari mimpi kecil tentang pergi ke Malaysia. Tapi siapa sangka—mimpi itu telah menumbuhkan begitu banyak jalan lain.
Keesokan harinya, setelah sekolah, Bu guru kembali memanggil Laila ke ruang guru.
“Kamu ingat program Anak Tangguh Desa itu?” tanya Bu guru.
Laila mengangguk cepat.
“Besok kamu diminta presentasi kecil di balai desa. Nggak usah tegang, cuma cerita saja tentang kegiatanmu di rumah dan impianmu.”
Laila terdiam sesaat. Lalu mengangguk mantap. “InsyaAllah Kakak siap, Bu.”
Malamnya, seluruh keluarga berkumpul di ruang tengah. Laila berdiri di depan mereka dengan selembar kertas di tangan.
“Ini latihan, ya,” katanya dengan malu-malu.
Ayah dan mama duduk di kursi, Rizal duduk di karpet sambil menggigit krupuk, dan si pembantu duduk di dapur sambil ikut mendengarkan.
Laila membuka mulut, suaranya gemetar di awal, tapi pelan-pelan menjadi mantap:
“Nama saya Laila. Saya kelas satu MI. Dulu saya punya mimpi ke Malaysia. Tapi saya tahu, mimpi itu tidak bisa dicapai dalam sehari. Saya mulai dari celengan botol, menjual kangkung dan bayam dari kebun di samping rumah. Lalu saya bantu mama bikin keripik. Saya belajar bahwa untuk sampai ke tempat yang jauh, kita harus mulai dari tempat yang paling dekat: rumah kita sendiri.”
Begitu selesai, ruangan hening sejenak. Lalu ayah bertepuk tangan pelan. Mama tersenyum haru. Rizal berteriak, “Kak Laila keren banget!”
Laila menunduk. Wajahnya merah. Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang menguat: rasa bahwa langkah kecilnya benar-benar berarti.
Dan di malam itu, ia menulis:
"Dulu aku menulis impian. Sekarang aku sedang membacanya, kalimat demi kalimat, di depan orang-orang yang paling aku sayangi."
Pesawat mungkin belum berangkat.
Tapi hatinya… sudah mulai terbang.
Halaman 24
Hari itu, suara ketukan palu dan gerinda dari rumah sebelah terdengar lebih kencang dari biasanya. Tetangga mereka, Pak Agus, sedang membangun dapur baru di belakang rumahnya. Laila yang sedang menyiram kangkung di samping rumah menoleh setiap kali suara cetak! dan ngiiiing! terdengar.
Rizal, yang sedang mengendarai sepeda kecilnya, juga terganggu. “Aduh, suara apaan sih? Kuping Rizal gatel!”
Ayah keluar sambil mengangkat alis. “Kayaknya tukangnya kebut target hari ini.”
Tak lama, datang Bu Rini—istri Pak Agus—melewati pagar dengan wajah panik. “Pak… Maaf, bisa tolong sebentar?”
Ayah segera menyambut. “Ada apa, Bu Rini?”
“Pipa air buat kolam bocor. Tukangnya nggak sengaja kena waktu ngebor. Airnya ngalir ke mana-mana… sampai ke kebun Bapak juga,” katanya tergesa-gesa.
Laila langsung lari ke sisi rumah. Benar saja, air dari pipa bocor mengalir deras, membasahi parit dan mulai merembes ke bedengan bayam. Beberapa tanaman sudah rebah.
“Yah!” seru Laila. “Bayamnya kena air kotor!”
Ayah menghela napas panjang. “Aduh… padahal ini bayam yang paling sehat…”
Bu Rini tampak menyesal. “Maaf banget ya, Pak. Nanti kami ganti.”
Laila memandangi bayam-bayam rebah itu. Daunnya lecek, tanahnya becek, bahkan ada satu yang nyaris tercabut. Tapi daripada marah, ia justru berpikir… apa yang bisa dilakukan?
Keesokan harinya, Laila membawa sesuatu ke sekolah: satu kantong bayam yang rusak, dan satu kantong plastik kosong. Ia bercerita kepada Bu guru saat istirahat.
“Bu, kemarin bayamku rusak kena air dari rumah sebelah. Tapi Kakak kepikiran… kalau daun bayamnya dikeringin, bisa nggak ya jadi prakarya?”
Bu guru mengangguk antusias. “Wah, idemu bagus, Laila. Kita bisa pakai buat pelajaran seni minggu depan!”
Laila tersenyum lebar. Ia tahu mungkin bayam itu tak bisa dijual. Tapi bukan berarti tidak bisa berguna.
Sorenya, ia dan Rizal mengumpulkan daun-daun bayam rusak yang masih bersih. Mereka jemur di tampah besar. Setelah kering, mereka tempelkan di kertas karton. Jadilah kolase bentuk pesawat, bunga, bahkan satu berbentuk rumah.
“Mama! Lihat ini!” Rizal berteriak. “Daun bayam bisa jadi lukisan!”
Mama tertawa sambil mengangkat ponsel. “Mama kirim ke grup pelatihan, ya. Siapa tahu bisa dijadikan ide souvenir!”
Hari itu, Pak Agus datang bersama Bu Rini. “Laila, ini uang ganti rugi untuk bayamnya ya. Kami benar-benar minta maaf.”
Tapi Laila menggeleng sambil tersenyum. “Nggak usah, Om. Bayamnya sudah jadi lukisan. Malah lebih seru!”
Pak Agus terkejut. “Lho? Serius?”
Ayah menambahkan, “Anak ini punya cara ajaib melihat masalah jadi peluang.”
Pak Agus tertawa, “Kalau gitu, minggu depan kirim satu lukisan ke rumah saya ya. Nanti saya bingkai!”
Laila mencatat hari itu bukan sebagai hari rugi, tapi hari eksperimen. Ia menulis:
“Kadang sesuatu yang rusak bisa jadi karya. Asal kita nggak buru-buru marah… dan mau melihat dari sisi yang lain.”
Dan di bawahnya, ia menambahkan:
“Pelajaran hari ini: bayam nggak cuma bisa digoreng.”
Lalu tertawa sendiri.
Halaman 25
Hari Rabu siang, sekolah libur karena ada pelatihan guru. Laila pulang lebih awal dari biasanya. Saat memasuki gang rumah, ia melihat Pak Agus sedang duduk di kursi bambu depan rumahnya, memandangi dinding yang belum selesai diplester.
“Om Agus nggak kerja bangun dapur hari ini?” tanya Laila sambil berhenti.
Pak Agus menghela napas panjang. “Tukangnya nggak datang, Kak. Katanya istrinya sakit dan harus dijaga. Jadi ya… dapurnya berhenti dulu deh.”
Laila duduk di anak tangga depan rumahnya, menatap dinding bata yang belum diaci. “Om, itu kan dapurnya belum ada atap ya?”
“Betul. Kalau hujan besar, bisa becek semua. Makanya Om agak khawatir.”
Malamnya, Laila bercerita ke ayah sambil membantu menggulung selang di kebun.
“Yah, dapur Pak Agus nggak lanjut. Tukangnya nggak bisa datang.”
Ayah mengangguk pelan. “Namanya juga hidup, Kadang ada yang harus ditunda. Tapi mungkin… ada yang bisa kita bantu?”
Laila berpikir sejenak. Lalu esok harinya, ia membawa selembar kertas besar ke rumah Pak Agus. Di atasnya tertulis:
“Rencana Gotong Royong Mini.”
Di dalamnya ada gambar tangan kecil-kecil: milik Laila, Rizka, dan beberapa anak tetangga. Di bawahnya ada daftar: menyapu lokasi bangunan, menutup bahan bangunan dengan terpal kalau hujan, dan menyiram jalan supaya debu tidak beterbangan.
“Om, kami mungkin nggak bisa bangun dinding… tapi bisa bantu jaga yang sudah dibangun,” katanya.
Pak Agus menatap Laila lama. Lalu tertawa kecil. “Duh, Kak… ide kamu luar biasa.”
Hari Minggu pun menjadi hari gotong royong mini. Anak-anak membantu menyapu batu-batu kecil, menata semen di sudut agar tidak kena hujan, dan menutup sebagian dinding dengan plastik tebal sumbangan dari Pak RT.
Ibu-ibu tetangga ikut membawa teh dan kue. Ayah membantu menata beberapa kayu. Bahkan Rizal—yang biasanya hanya ikut-ikutan—membawa ember kecil untuk siram-siram debu.
“Ini bukan dapur Pak Agus lagi,” kata Rizka. “Ini jadi dapur semua orang.”
Sore harinya, setelah lelah bermain… eh, bekerja, Laila duduk di depan rumah dengan sepotong kue di tangan.
“Mama,” katanya, “Kadang Kakak bingung. Kakak nabung buat pergi jauh, tapi kenapa sekarang malah sibuk bantu orang lain terus?”
Mama tersenyum lembut. “Karena mungkin, Kak… kamu baru sadar: pergi itu bukan soal meninggalkan. Tapi soal membawa. Dan kamu lagi belajar membawa kebaikan, ke mana pun kamu pergi nanti.”
Laila terdiam. Kata-kata mama menyentuhnya dalam. Ia memeluk buku catatan impiannya malam itu, dan menulis:
“Sebelum aku terbang jauh, aku ingin memastikan rumah ini bisa berdiri kuat. Termasuk dapur tetangga.”
Dan untuk pertama kalinya… halaman itu diberi judul:
“Impian yang Tidak Egois.”
Halaman 26
Pagi-pagi sekali, sebelum ayam tetangga berkokok dua kali, Laila sudah bangun. Hari itu terasa istimewa. Bukan karena ulang tahun, bukan juga karena mau liburan. Tapi karena ia dijadwalkan tampil di Balai Desa, bercerita di hadapan banyak orang tentang mimpi dan perjuangannya.
“Deg-degan nggak, Kak?” tanya Rizal sambil duduk di ranjang, masih mengantuk.
“Deg-degan banget!” jawab Laila sambil memeluk bantal.
Mama membantu menyiapkan baju terbaiknya—baju batik biru tua yang pernah dipakai saat pentas baca puisi di sekolah. Ayah menyiapkan berkas presentasi: kertas karton bergambar grafik celengan, foto hasil kebun, hingga contoh kemasan Keripik Kebun Mama.
Sampai di balai desa, Laila melihat anak-anak lain juga datang membawa poster, boneka hasil jahit tangan, dan karya-karya keren lainnya. Tapi Laila tidak ciut. Ia tahu, yang ia bawa bukan cuma produk… tapi cerita.
Ketika namanya dipanggil, ia naik ke atas panggung kecil sambil membawa satu kantong kecil keripik dan grafik tabungan yang sudah lusuh karena sering dibolak-balik.
“Assalamu’alaikum. Nama saya Laila. Saya kelas satu MI. Saya punya mimpi untuk pergi ke Malaysia. Tapi saya tahu, nggak cukup hanya mimpi. Jadi saya menabung. Saya jual kangkung, bayam, cabe. Lalu bantu mama bikin keripik. Dan saya juga pernah bantu teman saya Rizka waktu ayahnya kecelakaan.”
Wajah-wajah di ruangan itu memperhatikan dengan sungguh-sungguh. Bahkan Pak Camat yang duduk di barisan depan mengangguk-angguk.
“Saya juga bantu Pak Agus yang dapurnya belum jadi. Kami gotong royong supaya kalau hujan, bangunannya nggak rusak. Semua ini saya lakukan karena saya tahu… mimpi itu bukan hanya tentang diri sendiri. Tapi tentang siapa yang kita ajak untuk naik bersama.”
Ruangan hening sejenak. Lalu… tepuk tangan menggemuruh.
Di sudut panggung, mama meneteskan air mata. Ayah berdiri, tangan terkepal bangga. Dan Rizal—yang duduk dengan kaki menggantung—berteriak,
“Itu Kakakkuuuu!!”
Usai acara, Pak Camat menghampiri keluarga Laila.
“Anak Ibu ini luar biasa,” katanya. “Kami ingin ajukan Laila ke tingkat kabupaten untuk mewakili desa. Kalau terpilih, akan ada pelatihan singkat dan… kemungkinan besar tur edukatif ke luar negeri tahun depan.”
Mama hampir tak bisa berkata-kata. Laila membelalak. “Beneran ke luar negeri?”
Pak Camat tersenyum. “Masih proses, ya. Tapi yang penting, kamu sudah tunjukkan satu hal penting: bahwa mimpi bukan sekadar dilihat dari jarak, tapi dari kedalaman usahanya.”
Sepulang dari balai desa, Laila duduk di bawah pohon jambu di halaman rumah. Ia membuka buku impiannya, dan di halaman kosong paling belakang, ia tulis:
“Aku tidak tahu kapan pesawat itu akan benar-benar mengudara untukku. Tapi hari ini… aku tahu bahwa aku sudah sangat dekat dengan langit.”
Dan di pojok halaman, ia menambahkan coretan kecil:
✈️ ← titik awal rumahku
☁️ ← perjalanan bersama semua orang yang mendukungku
🌍 ← tujuan yang belum terlihat, tapi pasti mendekat.
Laila menutup bukunya… dan tersenyum penuh harap.
Halaman 27
Hari-hari setelah acara di balai desa menjadi berbeda bagi Laila.
Orang-orang di kampung mulai mengenalnya. Ibu-ibu yang biasanya hanya menyapa sekilas saat belanja di warung, kini berhenti dan berkata, “Wah, ini Laila yang ceritanya bikin Bu RT nangis ya?”
Atau, “La, tante boleh minta tempelan stiker ‘Keripik Kebun Mama’? Mau dipasang di toples cemilan.”
Tapi perubahan paling besar datang dari dalam diri Laila sendiri.
Ia tak lagi hanya menabung demi pergi ke Malaysia. Kini, ia mencatat pengeluaran kebun, pemasukan keripik, bahkan membuat daftar siapa saja yang pernah ia bantu dan bagaimana mereka juga membantunya kembali.
“Kak, kamu kayak bendahara kampung,” canda Rizka saat Laila menunjukkan buku catatannya yang penuh warna dan tabel buatan tangan.
Suatu sore, Laila sedang menulis grafik baru ketika mendengar suara keributan kecil dari rumah tetangga baru di ujung gang. Ia mengintip dari balik pagar.
Seorang anak perempuan, seusia Laila, duduk sendiri di teras, matanya merah. Seorang ibu—kemungkinan ibunya—sedang bicara dengan nada tinggi di dalam rumah.
“Pasti anak baru,” pikir Laila.
Sore itu, Laila meminta izin mama untuk mengantar satu bungkus keripik ke rumah anak tersebut. “Bilang saja ini contoh. Tapi sebenarnya Kakak cuma mau kenalan,” bisiknya ke mama.
Ia mengetuk pelan pagar besi. Anak perempuan itu mendongak.
“Hai, aku Laila. Aku tinggal dua rumah dari sini,” katanya sambil menyodorkan bungkus keripik.
Anak itu tampak ragu, tapi akhirnya menerima. “Aku Caca,” katanya lirih.
“Kamu baru pindah, ya?”
Caca mengangguk. “Ayahku kerja di luar kota. Aku tinggal di sini sama ibu. Tapi Ibu sering marah-marah. Aku kangen rumah lama…”
Laila duduk di anak tangga. “Aku juga belum pernah ke luar kota. Tapi Kakak punya mimpi ke Malaysia. Makanya Kakak nabung.”
Caca menatapnya heran. “Sendiri?”
“Awalnya. Tapi sekarang… bareng banyak orang. Karena ternyata, mimpi yang dibagi itu lebih ringan dibawa.”
Mereka tertawa kecil.
Hari itu, Laila menulis sesuatu yang baru—bukan di buku impian, tapi di kertas kecil yang ia tempel di dinding kamar:
“Mungkin impian terbesarku bukan pergi ke negeri seberang, tapi menjadikan kampungku tempat yang lebih ramah untuk siapa saja.”
Dan malamnya, mama memeluk Laila sambil berbisik,
“Kakak nggak sekadar bertumbuh. Kakak menumbuhkan.”
Di luar jendela, langit masih gelap. Tapi kali ini, bukan hanya satu bintang yang terlihat…
Ada banyak—seperti mimpi yang mulai tumbuh dari segala arah.
Halaman 28
Beberapa minggu setelah pertemuan pertama mereka, Laila dan Caca menjadi sahabat baru. Caca yang awalnya pendiam mulai lebih sering tersenyum, bahkan ikut bermain ke kebun dan membantu mengemas keripik.
“Kak Laila, boleh nggak aku bantu kasih label stiker keripiknya?” tanya Caca suatu sore.
“Tentu boleh! Tapi tempelnya jangan terbalik ya, nanti bisa dimarahi bagian pengawasan,” kata Laila sambil menunjuk Rizal, yang sedang serius duduk dengan wajah sok galak.
“Awas ya, kalau miring, ulang dari awal!” kata Rizal dengan gaya ala bos besar.
Caca tertawa. “Siap, Pak Direktur!”
Mereka bertiga menempel stiker, sambil menyanyi pelan lagu-lagu dari sekolah. Di sela-sela itu, Caca mulai bercerita.
“Dulu, waktu di rumah lama, aku nggak punya teman main. Di sini… beda.”
Laila menoleh, “Beda gimana?”
“Di sini, aku ngerasa kayak ikut tumbuh. Ikut bantu. Nggak cuma duduk sendiri nunggu Ibu selesai marah.”
Laila menunduk sebentar, lalu menggenggam tangan Caca pelan. “Sama kayak Kakak waktu dulu. Awalnya juga cuma bisa lihat pesawat lewat, sambil ngimpi.”
Caca tersenyum kecil. “Tapi sekarang Kakak malah ngajak banyak orang buat ikut terbang bareng.”
Laila terdiam. Lalu berkata, “Iya. Karena Kakak sadar, kadang mimpi kita justru baru bisa tumbuh… kalau kita izinkan orang lain menanamnya juga.”
Hari itu, mama membawa kabar baik: pesanan keripik dari satu toko kelontong di kecamatan. “Katanya kalau bisa konsisten seminggu dua kali, mereka mau jual terus,” kata mama.
Ayah juga menyahut, “Tadi ada yang tanya ke website, katanya mau beli kambing kurban. Katanya lihat iklan kita di status WhatsApp temennya.”
Laila tertawa. “Berarti makin banyak yang lihat kita ya, Yah.”
Malam harinya, keluarga kembali duduk bersama di ruang tengah. Ayah mengeluarkan buku keuangan keluarga, mama mencatat pesanan, Rizal sibuk menggambar di kertas—gambar rumah, pesawat, dan keripik bertuliskan “rasa pedas manis.”
Dan Laila, malam itu, menulis di buku impiannya:
“Ternyata, rumah kami bukan sekadar tempat tinggal. Tapi tempat mimpi-mimpi kecil dikumpulkan, dibagi, lalu tumbuh bersama. Dan yang paling ajaib… rumah ini makin ramai, bukan karena bangunan, tapi karena hati-hati yang ikut masuk dan menetap.”
Ia memandang ke luar jendela. Tidak ada pesawat lewat malam itu.
Tapi Laila tahu… langit tidak pernah kosong bagi mereka yang sedang bersiap terbang.
Halaman 29
Hari Jumat, sekolah hanya sampai jam sebelas. Udara siang terasa terik, tapi hati Laila sejuk karena kabar dari Bu Guru:
“Laila, kamu masuk nominasi final Anak Tangguh Kabupaten. Minggu depan kamu diminta tampil di aula kota. Yang datang banyak. Termasuk dari Dinas Pendidikan.”
Laila terdiam. “Di… aula kota? Yang besar itu?”
Bu Guru mengangguk. “Tenang, Ibu yakin kamu bisa. Kamu cuma perlu jadi diri sendiri.”
Sepulang sekolah, Laila berjalan cepat ke rumah, tidak sabar membagi kabar. Tapi sebelum sempat membuka pagar, suara tangisan terdengar dari dalam rumah.
Ia berlari masuk.
Di dalam, Rizal duduk di lantai sambil memegangi kakinya. Di sampingnya, sepeda kecilnya tergeletak miring dengan satu roda yang lepas.
Mama sedang mengompres luka kecil di lutut Rizal.
“Aduh, Kak Rizal jatuh waktu main sepeda. Tadi coba belajar standing!” keluh mama, antara marah dan khawatir.
“Standing?!” seru Laila. “Itu kan gaya kakak kemarin! Rizal lihat, ya?”
Rizal mengangguk sambil terisak. “Aku pengin bisa kayak Kakak…”
Laila duduk di sampingnya, menggenggam tangannya pelan. “Kamu tahu nggak, belajar naik sepeda itu sama kayak mimpi. Kadang jatuh, tapi kita bisa bangkit.”
Rizal menunduk. “Tapi aku malu…”
“Kalau semua orang malu pas jatuh, nggak akan ada yang bisa jalan,” kata Laila sambil tersenyum.
Hari itu, Laila membatalkan rencananya latihan presentasi. Ia memilih duduk menemani Rizal. Sore harinya, ketika luka adiknya mulai membaik, Laila menawarkan: “Besok kita belajar sepedanya bareng, ya. Tapi nggak usah standing dulu.”
Rizal tertawa kecil.
Malam itu, Laila membuka kembali buku impiannya—bukan untuk menulis tentang lomba, atau tentang pesawat, tapi tentang Rizal.
“Ternyata, hal yang paling sulit dari sebuah mimpi adalah melihat orang yang kita sayangi jatuh dan terluka. Tapi Kakak belajar hari ini… bahwa yang paling indah bukan saat kita terbang, tapi saat kita bisa menarik tangan orang lain agar ikut bangkit dan berjalan.”
Ia menutup bukunya pelan. Di luar kamar, Rizal sudah tertidur dengan es batu di lutut dan senyum kecil di wajah.
Laila menatap adiknya, lalu berbisik sendiri,
“Kakak akan terus bermimpi… tapi bukan buat Kakak sendiri lagi.”
Halaman 30
Pagi Minggu, rumah Laila dipenuhi semangat yang tak biasa.
Mama sedang menyetrika baju batik Laila. Ayah memoles sepatu hitam kecil yang hanya dipakai untuk acara-acara penting. Rizka datang membawa bunga plastik kecil, “Ini buat hiasan di panggung nanti, La. Biar kamu tampil lebih cantik!”
Laila berdiri di depan cermin, mencoba melatih senyum dan kalimat pertamanya.
“Kak, semangat ya!” seru Rizal, yang kakinya sudah jauh lebih baik. Ia bahkan sudah bisa naik sepeda keliling halaman—tentu tanpa gaya “standing” kali ini.
Saat mobil dari pihak desa datang menjemput, tetangga-tetangga keluar dari rumah masing-masing untuk melambaikan tangan. Pak Agus bahkan mengangkat jempol sambil berteriak, “Kalau ketemu Pak Bupati, titip salam ya!”
Di dalam mobil, Laila duduk di samping mama dan ayah. Tangannya menggenggam map kecil berisi catatan presentasi. Tapi ia tahu, isi hatinya jauh lebih penuh daripada kertas-kertas itu.
Ketika sampai di aula kota, ia melihat anak-anak dari desa lain, semuanya hebat dan penuh semangat. Tapi Laila tidak merasa kecil. Ia tahu, setiap anak membawa cerita yang penting. Dan cerita Laila… bukan sekadar soal tabungan atau pesawat.
Saat namanya dipanggil, Laila naik ke panggung dengan langkah ringan. Ia berdiri di depan banyak orang—pejabat, guru-guru, bahkan kamera.
Ia membuka mulut, lalu berkata,
“Nama saya Laila. Saya pernah punya mimpi ke Malaysia. Tapi saya belajar, mimpi itu seperti menanam kangkung. Harus disiram, dijaga, dan tidak bisa tumbuh sendiri. Saya tidak tahu apakah saya akan benar-benar naik pesawat suatu hari nanti. Tapi saya tahu satu hal: rumah saya, keluarga saya, teman-teman saya—mereka semua telah membuat hati saya lebih luas dari negeri mana pun yang ingin saya kunjungi.”
“Saya percaya, mimpi bukan soal sejauh apa kita pergi, tapi seberapa banyak kita ajak orang untuk tumbuh bersama.”
Ruangan hening. Lalu… tepuk tangan menggema, lebih keras dari apa pun yang pernah Laila dengar sebelumnya.
Ketika Laila turun panggung, mama memeluknya erat. Ayah mengusap kepala Laila dengan penuh bangga. Rizal—yang menonton lewat video call dari rumah—berteriak di layar,
“Kakak menang!!”
Tapi Laila hanya tersenyum.
Karena bagi Laila, menang bukanlah piala yang nanti ia bawa pulang.
Menang adalah saat ia tahu:
bahwa ia telah terbang,
walau kakinya masih menapak di kampung.
Dan di halaman terakhir buku impiannya, ia menulis:
“Perjalanan belum selesai. Tapi sekarang, aku tahu: aku tidak hanya ingin pergi. Aku ingin pulang membawa sesuatu. Sesuatu yang bisa dibagi. Seperti cahaya. Seperti cinta. Seperti cerita ini.”
SELESAI
🌍✈️🏡
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Label
Dongeng Anak- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya