- Penulis: Maolana Akhsan
- Panjang: 30 halaman
Halaman 11
Pagi Selasa datang dengan langit mendung. Gerimis kecil membasahi genteng rumah dan jalanan desa yang mulai becek. Tapi semangat Laila tidak ikut redup. Setelah selesai shalat Subuh, ia langsung mengambil buku tabungannya dan membuka halaman terakhir.
“Empat puluh lima ribu,” gumam Laila pelan, lalu tersenyum. “Hari ini, harus sampai lima puluh ribu.”
Sambil menunggu hujan reda, ia duduk di samping jendela, melihat kebun yang basah. Daun kangkung tampak bersinar karena butiran air hujan. Kolam ikan penuh hingga ke pinggir. Ayah sudah bersiap dengan jas hujan plastik tipis, berdiri di dekat pagar sambil membawa ember.
“Kakak, bantu ayah siram cabe aja ya, nggak perlu banyak. Tadi malam tanahnya udah lembap, tapi bagian pinggir masih kering,” kata ayah sambil mengenakan sandal jepit.
“Oke, Yah!” jawab Laila bersemangat.
Ia berlari mengambil gayung kecil dan mulai menyiram dari sisi kiri kebun, tepat di antara tanaman cabe dan terong. Meskipun kakinya basah dan celana olahraganya sedikit kotor, Laila merasa senang. Hujan pagi ini membawa berkah: sayur tumbuh segar, air kolam terisi, dan semangat untuk menabung kembali menyala.
Setelah menyiram, Laila mandi, sarapan, lalu bersiap ke sekolah. Sebelum berangkat, ia mengendap-endap ke kamar ayah dan membuka laci kecil tempat ayah menyimpan uang kembalian dari pembeli online.
“Yah…” panggil Laila pelan.
Ayah menoleh dari depan laptop. “Ya, Kak?”
“Kakak mau minta uang saku yang biasanya dua ribu… tapi hari ini Kakak cuma ambil seribu aja, yang seribu lagi buat ditabung.”
Ayah menatapnya lama, lalu tersenyum bangga. “Wah, makin pintar aja Kakak ini. Ini seribu untuk jajan, dan ini satu lembar buat celengan.”
Laila memasukkan uang itu ke dalam saku dan berangkat ke sekolah dengan hati ringan.
Hari itu, pelajaran pertama adalah IPS. Bu guru membahas tentang negara tetangga Indonesia. Saat sampai ke slide tentang Malaysia, Laila langsung duduk tegak. Gambar bendera Malaysia, makanan khas seperti nasi lemak, dan tentu saja, Menara Kembar Petronas terpampang jelas di layar.
“Bu, kalau mau ke Malaysia harus pakai paspor, kan?” tanya Laila.
“Iya, betul,” jawab Bu guru. “Paspor itu seperti KTP untuk bepergian ke luar negeri. Harus diurus di kantor imigrasi. Tapi harganya lumayan, ya.”
Laila mencatat cepat-cepat di bukunya:
"Harus punya paspor. Tanya ayah biayanya."
Sepulang sekolah, ia langsung menemui ayah di ruang kerja. “Yah, paspor harganya berapa?”
Ayah tertawa. “Kakak serius banget ya. Untuk anak-anak, sekitar lima ratus ribuan. Tapi nanti itu belakangan. Kita selesaikan dulu nabung buat tiket dan perjalanan.”
Laila mengangguk, lalu menyerahkan uang seribu ke ayah. “Ini buat tambah celengan.”
Ayah mengambil buku tabungan dan menulis:
Hari ke-11: Tambahan Rp1.000 dari sisa uang saku. Total: Rp46.000
Malam harinya, setelah makan dan mengerjakan PR, Laila memandangi grafik tabungannya lagi. Ia mengambil stiker bintang dan menempelkannya sedikit lebih tinggi.
Rizal masuk ke kamar dan duduk di lantai sambil membawa sepeda mainannya.
“Kak, kalau Kakak udah sampai Malaysia, jangan lupa bawain oleh-oleh buat Rizal, ya.”
Laila tertawa kecil. “Kalau Kakak sampai sana, Kakak beliin kaus gambar pesawat buat Rizal.”
“Yeaaay!” Rizal bersorak sambil berputar-putar dengan sepedanya.
Laila kembali menatap celengan botolnya. Meski uangnya belum banyak, tapi hatinya sudah penuh: oleh semangat, doa, dan keyakinan bahwa langkah kecil hari ini adalah kunci menuju lompatan besar esok hari.
Halaman 12
Hari Rabu datang dengan matahari cerah yang menyinari daun-daun kebun di samping rumah. Embun pagi masih menempel di ujung-ujung daun kangkung dan bayam, memantulkan cahaya seperti mutiara kecil. Laila berdiri di sisi kebun, memeriksa satu per satu tanaman yang siap panen.
“Kak, hari ini kangkungnya bisa dipetik lagi. Tapi jangan banyak, cukup buat dua ikat aja,” kata ayah dari dekat kolam sambil membawa ember kecil.
“Iya, Yah. Laila mau jual ke Bu Risma lagi,” jawab Laila.
Dengan hati-hati, ia memetik batang kangkung yang masih muda. Setelah selesai, ia mencuci kangkung itu di ember, lalu mengikatnya dengan tali rafia. Ia menuliskan harga di karton bekas:
"Kangkung segar Rp2.000/ikat"
Lalu memasukkan dua ikat itu ke dalam tas kecil warna merah miliknya.
Sebelum berangkat sekolah, Laila mampir ke rumah Bu Risma. Seperti biasa, Bu Risma tersenyum saat melihatnya.
“Wah, Laila datang lagi. Segar-segar kangkungnya. Ini buat ibu ya?” katanya sambil mengambil dua ikat.
“Iya, Bu. Dua ribu satu ikat, Bu.”
Bu Risma mengeluarkan uang lima ribu dari dompet kecil, lalu menyerahkannya. “Kembaliannya buat Laila, tambahin tabungan ya.”
Laila terkejut. “Wah, makasih banyak, Bu!”
Di perjalanan ke sekolah, Laila memperlihatkan uang itu ke Rizka. “Hari ini dapet lima ribu. Padahal biasanya cuma empat.”
“Rezeki anak rajin tuh!” kata Rizka sambil mengacungkan jempol.
Di kelas, Laila duduk di bangku depan, bersemangat mengikuti pelajaran. Hari ini pelajaran IPA membahas tentang ekosistem—tanaman, hewan, dan air. Saat Bu guru bertanya siapa yang pernah merawat tanaman sendiri, Laila langsung mengangkat tangan.
“Saya, Bu. Di rumah ada kebun. Saya nanam bayam, kangkung, cabe, sama terong. Terus disiram pakai air dari kolam ikan.”
Bu guru tersenyum bangga. “Wah, bagus sekali. Itu namanya pertanian terpadu, Laila. Kamu sudah bantu menjaga lingkungan.”
Teman-teman bertepuk tangan. Dani yang dulu suka mengejek, kini malah ikut kagum. “Hebat juga kamu, La. Bisa jadi petani kecil nih!”
Laila hanya tersenyum kecil. Dulu dia sempat malu waktu dibilang anak kecil nggak bisa ke Malaysia. Tapi sekarang, perlahan-lahan, semua mulai percaya—bahkan Dani sekalipun.
Sepulang sekolah, Laila langsung pulang dan menyerahkan uang hasil jualan ke ayah. Ayah mencatat dengan rapi:
Hari ke-12: Tambahan Rp5.000 dari jual kangkung. Total: Rp51.000
“Yaaay! Akhirnya lewat lima puluh ribu!” seru Laila sambil meloncat kecil.
Ayah tertawa dan menepuk pundaknya. “Selamat, Kak. Ini langkah awal yang luar biasa.”
Laila lalu menempel bintang emas paling atas pada grafik tabungan yang ia buat sendiri. Di bawahnya, ia menulis dengan spidol warna biru:
“Target kecil pertama tercapai: 50 ribu!”
Malam harinya, setelah makan dan mandi, mama duduk di sebelah Laila yang sedang mewarnai gambar pesawat di scrapbook-nya.
“Kakak semangat banget ya. Mama bangga.”
Laila mengangguk. “Soalnya mama dan ayah dukung. Rasanya kayak punya sayap. Walaupun belum bisa terbang, tapi sayapnya udah tumbuh.”
Mama tersenyum dan mencium keningnya. “Terus tumbuhkan sayapmu, Kak. Biar nanti bisa terbang sejauh-jauhnya.”
Halaman 13
Keesokan harinya, Kamis pagi, Laila bangun lebih awal dari biasanya. Meski semalam tidur agak larut karena mengerjakan PR Matematika, semangatnya tidak kendur. Hari ini ia ingin menyusun rencana baru: Target 100 ribu.
Setelah sarapan dan bersiap ke sekolah, ia duduk sejenak di ruang tengah bersama ayah yang sedang membaca pesan masuk dari pembeli kambing di website.
“Yah,” Laila membuka suara, “kalau Kakak pengin nabung sampai seratus ribu, berapa lama ya kira-kira?”
Ayah tersenyum sambil memutar kursi kerjanya ke arah Laila. “Kalau Kakak bisa tambah sepuluh ribu seminggu, berarti sekitar lima minggu lagi.”
Laila mencatat di buku kecilnya. “Berarti sebelum akhir bulan depan, harus seratus ribu.”
Ayah menatap Laila dalam-dalam. “Kakak tahu nggak, kenapa ayah percaya Kakak bisa sampai ke Malaysia?”
“Kenapa?”
“Soalnya Kakak bukan cuma punya rencana, tapi juga jalanin rencananya dengan sabar dan konsisten. Itu yang paling penting.”
Laila tersenyum, lalu memeluk ayah sebentar sebelum berangkat ke sekolah. “Doain ya, Yah.”
“Pasti. Ayah dan Mama selalu doain.”
Di sekolah, hari itu pelajaran SBK. Bu guru meminta semua murid menggambar benda impian mereka. Ada yang menggambar robot, boneka, rumah besar, sampai mobil mainan. Laila menggambar sebuah pesawat besar dengan awan di sekitarnya, dan di bawahnya gambar dua menara tinggi.
“Laila gambar apa?” tanya Bu guru sambil melihat hasilnya.
“Pesawat yang bawa Laila ke Malaysia, Bu. Ini Menara Petronas,” jawab Laila polos.
Bu guru tersenyum lebar. “Wah, ini impian yang hebat. Laila harus simpan gambar ini baik-baik. Suatu hari, bisa jadi kenyataan.”
Sepulang sekolah, Laila mampir ke warung Bu Wati, tetangga sebelah yang juga menjual sayur dan sembako. Ia membawa dua ikat bayam hasil panen pagi tadi.
“Bu Wati, mau beli bayam segar?” tanya Laila sopan.
Bu Wati tersenyum dan langsung mengambil satu ikat. “Boleh. Segar banget daunnya. Dapat dari kebun sendiri ya?”
“Iya, Bu. Yang satu lagi buat Bu Sari kalau ketemu.”
Laila berhasil menjual dua ikat bayam hari itu. Masing-masing seharga dua ribu. Ia menambahkan uangnya ke dalam celengan saat sampai rumah.
Hari ke-13: Tambahan Rp4.000 dari jual bayam. Total: Rp55.000
Sorenya, Laila membantu mama menyapu lantai dan melipat baju di kamar. Rizal duduk di sudut ruangan sambil menyusun balok warna-warni. Kadang-kadang, ia ikut tertawa sendiri kalau menara baloknya roboh.
“Kakak makin rajin, ya,” puji mama sambil melipat jilbab.
“Soalnya Kakak mau nabung lebih banyak,” jawab Laila.
Mama mengangguk. “Tapi jangan lupa istirahat juga. Nggak usah buru-buru. Yang penting Kakak senang dan bahagia jalaninnya.”
Malam harinya, setelah mencoret angka “50 ribu” dari target lama, Laila menulis angka baru di buku tabungannya:
Target berikutnya: 100.000 rupiah.
Ia menatapnya lama-lama sambil menggenggam celengan botolnya.
Dalam hati, ia berbisik,
“Aku belum terbang, tapi langkahku sudah mengudara.”
Halaman 14
Hari Jumat pagi dimulai lebih cepat dari biasanya. Karena jam sekolah hanya sampai pukul sebelas, Laila merasa lebih ringan. Ia mengenakan seragam batik lengan panjang dan jilbab biru muda. Sebelum berangkat, ia berdiri di samping rumah, melihat tanaman bayam yang baru disemai ayah tiga hari lalu.
“Masih kecil-kecil ya, Yah?” katanya sambil jongkok, memandangi tunas-tunas mungil yang muncul dari tanah.
“Iya, Kak. Tapi nanti kalau dirawat, sebulan lagi udah bisa dipanen,” jawab ayah sambil menuang air dari ember ke parit kecil di antara tanaman. “Kayak mimpi kamu, kecil dulu, tapi nanti bisa jadi besar.”
Laila mengangguk pelan. Ia tersenyum dan kembali masuk ke rumah untuk mengambil tas. Sebelum pergi, ia menyempatkan menyimpan uang dua ribu dari sisa bekal kemarin ke dalam celengan.
Hari ke-14: Tambahan Rp2.000 dari bekal sisa. Total: Rp57.000
Di sekolah, suasana lebih santai. Setelah pelajaran selesai, Bu guru mengajak murid-murid duduk di lantai kelas membentuk lingkaran.
“Kita ngobrol-ngobrol ya. Namanya Berbagi Mimpi,” kata Bu guru.
Satu per satu anak menceritakan cita-cita mereka. Ada yang ingin jadi polisi, guru, dokter, ada juga yang ingin punya warung bakso sendiri. Saat giliran Laila, ia berdiri dan berkata lantang:
“Aku pengin ke Malaysia.”
Kelas mendadak hening. Beberapa teman melongo, yang lain saling pandang.
“Kenapa Malaysia, Laila?” tanya Bu guru sambil tersenyum.
“Soalnya aku pengin lihat Menara Petronas. Dan pengin ngerasain naik pesawat. Tapi uangnya belum cukup, jadi aku nabung dulu pelan-pelan.”
Beberapa teman yang dulu mengejeknya kini menatap dengan rasa kagum.
Rizka berbisik ke Dani, “Dia serius banget loh. Udah ada celengannya, ada grafiknya juga.”
Dani mengangguk pelan. “Keren juga.”
Bu guru mengangguk bangga. “Impian Laila luar biasa. Kuncinya bukan seberapa jauh, tapi seberapa tekun kamu melangkah.”
Sepulang sekolah, Laila pulang sambil membawa bunga kertas yang dibuat dari sisa pelajaran SBK kemarin. Ia berencana menaruh bunga itu di rak dekat celengannya, sebagai pengingat bahwa setiap hal indah dimulai dari tangan yang mau berusaha.
Setibanya di rumah, ia melihat Rizal sedang duduk di samping kolam, menggambar sesuatu di buku gambarnya.
“Kak!” panggil Rizal sambil mengangkat kertasnya. “Ini gambar Kakak naik pesawat!”
Laila mendekat dan tertawa. Di gambar itu, terlihat pesawat berwarna biru terbang di atas awan. Di jendelanya, ada sosok kecil berambut hitam dengan jilbab, tersenyum sambil melambaikan tangan.
“Ini Kakak?”
Rizal mengangguk. “Iya. Nanti kalau Kakak ke Malaysia, Rizal mau antar sampai bandara!”
Laila memeluk adiknya erat. “Rizal baik banget.”
Sore itu, mereka duduk berdampingan di samping rumah, memandangi langit yang mulai jingga. Kolam ikan memantulkan cahaya matahari senja, dan tanaman-tanaman kecil bergoyang pelan ditiup angin.
Hari itu ditutup dengan suara adzan Maghrib dan doa dalam hati yang sama seperti kemarin:
“Semoga langkah kecil ini terus berjalan. Biar suatu hari, aku bisa benar-benar sampai.”
Halaman 15
Hari Sabtu siang, setelah pulang sekolah, Laila masuk ke rumah dengan langkah terburu-buru. Wajahnya tampak cemas. Mama yang baru saja tiba dari pabrik langsung melepas tas dan meletakkan makan siang di meja.
“Kakak kenapa, kok kayak dikejar kambing?” tanya mama sambil membuka tudung saji.
Laila menjawab cepat, “Tadi Bu Wati bilang ada orang dari kota yang mau beli sayuran dalam jumlah banyak buat acara keluarga. Tapi harus sore ini!”
Mama dan ayah yang baru keluar dari ruang kerja langsung saling pandang.
“Banyaknya seberapa?” tanya ayah sambil duduk di kursi kayu ruang tengah.
Laila mengeluarkan kertas dari saku rok. “Ini, tadi Bu Wati kasih catatannya. Lima ikat kangkung, lima bayam, empat terong, dan dua bungkus cabe rawit. Harus dikirim sebelum Maghrib.”
Ayah menghela napas. “Kalau yang udah siap baru kangkung dan bayam. Terongnya belum dipetik semua. Cabe rawitnya masih kecil-kecil. Bisa sih, tapi kita harus kerja cepat.”
“Ayah percaya Kakak bisa bantu?” tanya Laila, matanya berbinar.
“Tentu. Tapi kita perlu tim,” jawab ayah sambil melirik ke arah Rizal yang sedang menyusun mainan di lantai. “Hei, Kapten Rizal! Siap bantu petik cabe?”
“Siap, Pak Komandan!” Rizal berdiri dan memberi hormat seperti prajurit.
Mama langsung ikut turun tangan. “Mama bantu bungkus dan bersihkan sayurannya. Tapi nanti mama juga harus nyetrika seragam buat Senin.”
Mereka pun bergerak cepat. Di samping rumah, Laila dan ayah mulai memetik terong yang paling besar. Daunnya lebar-lebar dan agak berduri, tapi Laila sudah terbiasa. Rizal memetik cabe kecil dengan hati-hati—meski dua kali tangannya nyaris kena semut merah.
“Au! Pedes!” teriaknya sambil meniup jarinya.
Di dalam rumah, mama mencuci bayam dan kangkung, lalu meniriskannya di atas tampah. Udara sore mulai sejuk, dan suara keran air, ember, serta percakapan riuh terdengar bersahut-sahutan dari sisi rumah mereka.
Tepat pukul lima sore, semua pesanan selesai. Laila dan ayah mengantarkan ke rumah Bu Wati yang akan mengurus pengirimannya. Di sana, Laila menyerahkan sendiri sayuran-sayuran itu ke ibu pembeli dari kota yang tampak terkejut.
“Ini yang jual anak kecil?” tanyanya sambil tersenyum.
“Bukan sendiri, kok. Dibantu ayah dan mama,” jawab Laila sopan.
Wanita itu mengambil dompet dan menghitung uang pembayaran. “Ini ya, sesuai yang Bu Wati bilang: dua puluh lima ribu.”
Laila menerima uang itu dengan hati berbunga-bunga. Ini adalah hasil terbesar yang pernah ia dapat dalam sekali jualan.
Sesampainya di rumah, Laila menyerahkan uang itu ke ayah, yang langsung mencatat di buku tabungan:
Hari ke-15: Tambahan Rp25.000 dari pesanan dadakan. Total: Rp82.000
“Wah, loncatnya jauh banget kali ini,” kata ayah sambil tertawa.
Tapi malam itu, saat semua orang tidur, Laila terbangun. Bukan karena mimpi buruk, tapi karena pikirannya penuh tanya.
Ia duduk di bawah lampu belajar kecil dan membuka bukunya. Di halaman belakang, ia menuliskan:
“Apa iya nanti kalau uangnya sudah cukup, aku benar-benar bisa pergi? Aku belum punya paspor, belum tahu harus naik apa, dan belum tahu tinggal di mana di Malaysia…”
Laila menatap langit-langit kamar. Untuk pertama kalinya, ia merasa ragu.
Bukan karena lelah. Tapi karena mimpinya kini terlihat lebih nyata—dan karena itu juga, lebih menakutkan.
Namun saat ia hampir menutup bukunya, sebuah suara kecil dari kamar sebelah terdengar. Rizal berbicara dalam tidur:
“Pesawat… Kakak…”
Laila menoleh pelan. Ia tersenyum.
Lalu menulis satu kalimat terakhir di bawah catatannya malam itu:
“Aku takut. Tapi aku nggak sendiri.”
Halaman 16
Esok harinya, suasana rumah agak berbeda. Laila bangun lebih siang dari biasanya. Biasanya dia langsung merapikan tempat tidur dan melihat kebun, tapi pagi itu… dia hanya duduk diam di tepi ranjang. Buku tabungannya terbuka di pangkuan, tetapi tidak disentuh.
Mama mengetuk pintu kamar. “Kak, sudah bangun?”
“Iya, Ma…”
Mama masuk perlahan, duduk di samping Laila. “Kenapa Kakak nggak ke kebun? Biasanya udah sibuk nyiram.”
Laila menunduk. “Kakak cuma mikir… apa nanti kalau uangnya udah cukup, Kakak benar-benar bisa pergi?”
Mama terdiam sejenak, lalu mengelus rambut Laila. “Kamu mulai ragu ya?”
Laila mengangguk pelan. “Iya. Kayaknya impian Kakak terlalu besar. Malaysia itu jauh, Ma… Bukan cuma soal uang. Nanti ngurus paspor gimana? Naik apa? Nginap di mana?”
Mama memandang Laila penuh kelembutan. “Kak, tahu nggak kenapa impian itu disebut ‘impian besar’? Karena memang terasa terlalu besar buat kita saat ini. Tapi bukan berarti nggak bisa dicapai.”
“Tapi Kakak takut…”
“Itu wajar,” potong mama. “Tapi Kakak nggak jalan sendiri, kan? Ada ayah, mama, Rizal… bahkan semua teman-teman di sekolahmu mulai percaya sama Kakak.”
Laila terdiam. Perlahan, ia menutup buku tabungan dan berdiri. “Kakak mau ke kebun dulu…”
Di luar, langit mulai cerah. Laila mengambil ember kecil dan berjalan ke samping rumah. Di sana, ayah sudah duduk memeriksa daun terong yang sebagian terkena hama.
“Yah, perlu bantu?” tanya Laila sambil jongkok di sebelahnya.
Ayah menoleh dan tersenyum. “Perlu dong. Tapi Kakak kelihatannya… habis mikir panjang ya?”
Laila mengangguk. “Kakak takut nggak bisa sampai ke Malaysia.”
Ayah menarik napas panjang. “Kak, waktu ayah mulai jualan kambing lewat website, banyak yang bilang itu aneh. Masa jualan kambing lewat internet? Tapi ayah percaya. Dan karena percaya, akhirnya bisa sampai hari ini.”
Laila memandangi daun-daun yang mulai menguning karena hama. “Jadi… Kakak harus terus percaya?”
“Iya. Tapi percaya itu nggak berarti nekat. Percaya itu artinya siap belajar, siap gagal, siap bangkit. Sama kayak nanam kangkung. Kadang tumbuh bagus, kadang layu. Tapi kalau terus dicoba, pasti berhasil.”
Tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Ternyata Pak Udin, tetangga mereka, datang membawa berita.
“Pak, Bu, ada lomba menulis mimpi anak-anak di kecamatan. Temanya ‘Langkah Kecilku, Dunia Besarku.’ Saya pikir Laila cocok ikut.”
Laila langsung berdiri. “Serius, Pak?”
“Iya. Hadiahnya bukan uang sih, tapi pemenangnya bakal diajak kunjungan ke bandara dan ngobrol langsung sama pilot,” jelas Pak Udin.
Mata Laila berbinar. “Ke bandara?!”
Ayah dan mama saling pandang, lalu tersenyum. “Kak, ini mungkin jalannya.”
Sore harinya, Laila duduk di meja belajarnya, menulis dengan semangat. Judul tulisannya:
“Aku, Celengan Botol, dan Impian Terbang.”
Setiap kalimat mengalir dari hatinya. Ia menulis tentang kebun kecil, kolam ikan, kambing kurban, dan kangkung dua ribuan. Tentang grafik bintang, tentang Rizal, tentang malam ketika ia takut… tapi memilih lanjut.
Malam itu, setelah tulisan selesai, Laila memeluk buku catatannya sambil menatap langit dari jendela kamar.
Dan untuk pertama kalinya, ia membayangkan mimpi itu… bukan sebagai bayangan jauh, tapi sebagai sesuatu yang sudah mulai mendekat.
Halaman 17
Pagi itu bukan Laila yang sibuk… tapi mama. Saat Laila sedang menyiangi daun kangkung, ia melihat mama mondar-mandir sambil sesekali menutup mulut dengan tangan.
“Maa, kenapa?” tanya Laila.
Mama berhenti sebentar dan menoleh. “Pabrik ada pengumuman. Katanya minggu depan sebagian karyawan dirumahkan. Mama kepikiran, Kak…”
Laila ikut terdiam. “Dirumahkan? Maksudnya… mama nggak kerja lagi?”
“Mungkin. Tapi belum pasti. Mama belum tahu nama siapa saja yang masuk daftar.”
Sore itu, rumah mendadak lebih tenang. Mama duduk lama di ruang tengah, tak seperti biasanya yang sibuk menyiapkan bahan masak atau menyetrika. Ayah mencoba menenangkan, tapi jelas terlihat di wajahnya: ia juga cemas.
Rizal yang biasanya ramai pun ikut menyadari ada yang aneh. Ia menghampiri mama dengan sepeda kecilnya.
“Mama jangan sedih, ya?” katanya sambil menyodorkan gambar coretannya—sebuah gambar keluarga sedang duduk di atas rumput.
Mama memeluk Rizal dan tersenyum. “Mama nggak sedih kok. Cuma… mikir aja.”
Laila duduk di samping mama. “Kalau mama nggak kerja, kita masih bisa hidup kan?”
Mama mengangguk. “Masih. Ayahmu tetap kerja, kita punya kebun, dan ada Kakak juga yang hebat…”
“Tapi kalau mama harus berhenti kerja, Kakak juga siap bantu lebih banyak,” kata Laila tegas.
Mama menatapnya, terharu. “Bukan tanggung jawab Kakak, sayang. Tapi semangatmu itu yang bikin Mama kuat.”
Hari-hari berikutnya terasa seperti menunggu hasil ujian. Semua berjalan normal, tapi ada perasaan menggantung di udara. Laila tetap sekolah, ayah tetap jualan kambing, mama tetap berangkat ke pabrik. Tapi semua terasa berbeda. Lebih pelan. Lebih hati-hati.
Sampai suatu sore, saat mama pulang dan langsung duduk tanpa bicara.
Laila menatap wajah mama, dan tahu jawabannya sebelum mama buka mulut.
“Mama masuk daftar, ya?”
Mama mengangguk. “Mulai bulan depan, Mama nggak kerja lagi.”
Ayah menghampiri dan duduk di sebelahnya. “Kita bisa atur lagi semuanya, kok.”
Malam itu, Laila menatap lembar tabungannya yang masih terbuka. Angka lima puluh tujuh ribu tidak berubah sejak dua hari lalu.
Tapi malam ini ia tidak menulis angka. Ia hanya menulis kalimat:
“Kalau langit tertutup awan, bukan berarti matahari hilang.”
Dan saat lampu dimatikan dan kamar gelap, Laila berdoa dalam hati—bukan agar ia bisa cepat pergi ke Malaysia, tapi agar keluarganya bisa kuat menghadapi apa pun yang datang.
Halaman 18
Minggu pagi, suasana rumah agak muram. Biasanya mama sudah sibuk menyiapkan masakan khas akhir pekan—soto ayam, atau paling tidak bala-bala goreng. Tapi kali ini, mama hanya duduk di teras, memandang langit kosong.
Ayah mencoba mengalihkan suasana. Ia membawa Laila dan Rizal ke kebun samping rumah. “Hari ini kita nanem lagi, yuk,” katanya. “Kita tambah selada dan sawi. Kalau panennya bagus, bisa dijual ke kantin sekolah.”
Rizal bersemangat. Ia langsung menggali tanah dengan sendok bekas, membuat lubang-lubang kecil. “Nanti Rizal kasih nama tanamannya, biar nggak bingung.”
“Nama? Apa maksudnya?” tanya Laila sambil tersenyum heran.
Rizal menunjuk satu lubang, “Yang ini namanya Seli, terus yang ini Dino, yang ini Kibo.”
Ayah tertawa geli. “Wah, nanti kalau disayur jangan sedih ya, Rizal.”
“Tapi jangan masak si Dino, ya,” jawab Rizal serius.
Laila ikut tertawa. Tapi kemudian, dari ujung jalan, datang suara motor cepat. Tak lama, Rizka—teman sekolah Laila—berhenti di depan pagar, wajahnya panik. Ia turun dari motor yang dikendarai kakaknya dan langsung menghampiri.
“La! Ayahku kecelakaan kecil! Motornya jatuh pas pulang kerja. Nggak parah, tapi kakinya luka dan nggak bisa jalan.”
Laila langsung menatap ayah. “Kita ke rumah Rizka, yuk.”
Di rumah Rizka, suasana tegang. Ayah Rizka duduk di kursi ruang tamu dengan kaki diperban seadanya. Ibunya sedang menunggu perawat dari puskesmas datang.
“Kak Laila…” Rizka memanggil pelan, “Gimana kalau aku bantu jualan kangkung juga? Tapi aku nggak punya kebun…”
Laila berpikir sebentar, lalu tersenyum. “Gampang. Nanti aku bagi dua dari hasil panenku. Kita kerja sama. Rizka bantu jual dan cari pembeli.”
Rizka tampak terkejut. “Beneran? Kamu nggak keberatan?”
“Aku juga nggak bisa pergi jauh tanpa bantuan. Kita bantu-bantu aja bareng.”
Kerja sama itu mulai berjalan keesokan harinya. Rizka mulai membawakan satu-dua ikat sayuran ke tetangga-tetangganya. Sementara Laila dan ayah fokus mengurus kebun agar panennya bisa lebih banyak dari biasanya.
Hari-hari berikutnya berjalan sibuk tapi penuh semangat. Mama mulai terlihat ceria lagi—ia membantu membuatkan label sederhana dari kertas karton bertuliskan “Sayur Segar Pagi Ini – Panen Sendiri.”
Dan sesuatu yang tak diduga terjadi.
Hari Kamis, Laila pulang sekolah dan menemukan sebuah amplop putih di atas meja makan. Di depannya tertulis:
“Untuk Laila. Dari Bu Guru.”
Laila membukanya perlahan. Isinya satu lembar surat dan brosur kecil.
Selamat, Laila! Tulisanmu tentang impian ke Malaysia terpilih sebagai karya terbaik tingkat kecamatan. Minggu depan kamu diundang untuk menghadiri kunjungan ke Bandara Internasional bersama peserta terpilih lainnya. Jangan lupa membawa pendamping dan persyaratan di balik brosur ini.
Mata Laila membelalak. “Aku… ke bandara?! Beneran?!”
Mama yang membaca di belakangnya langsung memeluk Laila erat.
“Kakak… ini baru awal. Tapi lihat, langkah kecilmu mulai benar-benar membuka jalan.”
Laila menggigit bibirnya, berusaha menahan haru.
Hari itu, ia menulis satu kalimat baru di buku impiannya:
“Terkadang, jalan ke mimpi kita melewati mimpi orang lain yang juga perlu ditolong.”
Halaman 19
Hari kunjungan ke bandara semakin dekat. Seluruh rumah sibuk menyiapkan keperluan: baju terbaik Laila disetrika mama dengan penuh hati-hati, sepatu yang biasanya dipakai upacara disikat sampai bersih oleh ayah, dan Rizal ikut-ikutan mengepak tas kecilnya meskipun tidak ikut berangkat.
“Aku bawa crayon, siapa tahu Kakak mau gambar pesawat,” katanya polos.
“Rizal sayang, kamu belum ikut dulu, ya. Nanti kalau Kakak udah beneran ke Malaysia, kamu Kakak ajak sekalian naik pesawat,” kata Laila sambil mengusap kepala adiknya.
Rizal cemberut, tapi akhirnya tersenyum juga.
Hari Sabtu pagi, sebuah mobil dinas dari kantor kecamatan menjemput Laila dan ayah. Dalam perjalanan, Laila duduk di jok belakang, matanya tak berkedip memandangi jalanan yang asing. Ini pertama kalinya ia pergi sejauh itu dari rumah. Ayah duduk di sampingnya sambil memegang map berisi dokumen pendaftaran.
Sesampainya di bandara, Laila menatap gedung besar itu dengan mulut menganga. Lampu-lampunya terang, pintu kacanya terbuka otomatis, dan orang-orang berjalan cepat sambil menarik koper.
“Ini… luar biasa,” bisiknya.
Mereka dibawa ke ruang briefing kecil di lantai atas. Di sana sudah ada lima anak dari sekolah lain, bersama orang tua mereka. Laila merasa kecil di tengah mereka yang tampak percaya diri.
Seorang pria berseragam pilot datang menyambut mereka. “Selamat datang, calon-calon penjelajah masa depan!” katanya ramah.
Anak-anak diajak berkeliling area publik bandara, melihat konter check-in, mesin X-ray, hingga ruang tunggu penumpang. Saat sampai di jendela kaca besar yang langsung menghadap landasan pacu, Laila terpaku.
Sebuah pesawat putih-biru perlahan bergerak menuju ujung landasan.
“Pesawat beneran…” gumamnya.
Ayah berdiri di belakangnya. “Kak, lihat itu.”
Pesawat mulai melaju. Mesinnya meraung. Roda-rodanya mengangkat. Dan dalam hitungan detik—terbang.
Laila tak bisa berkata-kata. Matanya berkaca-kaca. Bukan karena sedih. Tapi karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat apa yang selama ini hanya ia bayangkan.
“Suatu hari,” katanya lirih. “Aku akan ada di sana. Di dalam pesawat itu.”
Sebelum pulang, mereka diberi waktu menulis kesan dan pesan. Laila menulis:
“Dulu aku pikir bandara dan pesawat itu terlalu jauh. Tapi sekarang aku tahu: yang jauh bukan tempatnya, tapi keberanian kita untuk percaya bisa sampai ke sana. Terima kasih sudah membuatku lebih dekat dengan mimpiku.”
Dalam perjalanan pulang, ayah bertanya, “Gimana rasanya lihat pesawat lepas landas langsung dari dekat?”
Laila menoleh dan tersenyum. “Kayak mimpi Kakak juga. Terlihat berat… tapi ternyata bisa terangkat juga.”
Ayah tersenyum, bangga.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Laila menggambar pesawat bukan dari imajinasi—tapi dari kenyataan yang ia lihat sendiri.
Gambarnya penuh detail. Bahkan ia menulis di bawahnya:
"Penerbangan pertamaku: bukan hari ini, tapi pasti suatu hari."
Halaman 20
Hari-hari setelah kunjungan ke bandara terasa berbeda. Laila jadi semakin sering menatap langit tiap kali mendengar suara pesawat lewat. Tapi bukan dengan tatapan kosong, melainkan dengan semangat yang membara.
Namun, semangat Laila diuji. Bukan oleh dirinya sendiri—melainkan oleh Rizka.
Senin pagi, di sekolah, Rizka tidak hadir. Padahal biasanya ia sudah menunggu Laila di gerbang dengan senyum lebar dan cerita baru tentang jualan kangkungnya. Hari Selasa pun sama. Hari Rabu, Laila memutuskan untuk mampir ke rumahnya sepulang sekolah.
Rizka membuka pintu dengan wajah lesu. “La…” katanya pelan.
“Kamu sakit?”
Rizka menggeleng. Ia menunduk. “Ayahku di-PHK dari pabrik. Uang tabungan yang kupunya dipakai buat beli obat dan kebutuhan rumah.”
Laila diam. Ia tahu rasa itu: saat impian harus dikesampingkan karena kenyataan memanggil lebih keras.
“Aku jadi nggak bisa bantu jualan lagi,” lanjut Rizka. “Kayaknya aku juga nggak bisa nabung buat apa-apa sekarang.”
Laila duduk di sampingnya. Lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya—kertas grafik tabungan yang biasanya ia simpan sendiri. Kali ini, ia bawa dua. Yang satu belum ditulis apa-apa.
“Ini buat kamu,” katanya. “Kalau kamu siap, kita bisa mulai bareng lagi. Tapi sekarang kamu nggak perlu mikirin untung atau uang dulu. Kita nikmati aja prosesnya.”
Rizka terdiam lama. Matanya berkaca-kaca. “La… kamu selalu mikir buat orang lain juga, ya?”
Laila tersenyum kecil. “Karena aku tahu rasanya kalau harus berhenti. Tapi lebih baik pelan daripada berhenti.”
Hari itu, mereka tidak menulis angka. Tidak memanen kangkung. Tidak menjual sayur.
Tapi mereka menulis satu kalimat besar di grafik baru milik Rizka:
"Kita mulai lagi. Bersama-sama."
Keesokan harinya, mama membawa kabar tak terduga. “Mama ikut pelatihan usaha rumahan dari kecamatan. Katanya nanti bisa dapat bantuan modal kecil.”
Ayah yang sedang memberi makan ikan menoleh, “Wah, yang benar?”
“Iya. Mama daftar buat bikin keripik bayam sama terong,” jawab mama sambil memperlihatkan brosur.
Laila dan Rizal langsung bersorak. “Yaaay! Kita bantu, Ma!”
Rizal menambahkan, “Rizal bagian tester, ya!”
Rumah itu kembali hidup. Tapi kali ini, hidup dengan harapan yang lebih luas. Bukan cuma soal pergi ke Malaysia—tapi soal bagaimana impian kecil bisa membuka peluang untuk semua.
Dan malam itu, ketika Laila mencatat harinya di buku harian, ia tidak menuliskan angka.
Ia menuliskan:
“Ternyata, kadang kita harus berhenti menghitung… dan mulai berbagi.”