- Penulis: Maolana Akhsan
- Panjang: 30 halaman
- Pesan Moral:
🌱 1. Mimpi Tak Mengenal Usia
"Sekecil apapun kamu, kamu berhak punya mimpi besar."
Laila membuktikan bahwa mimpi ke luar negeri bukan hanya milik orang dewasa. Anak-anak juga bisa punya cita-cita besar.
💰 2. Ketekunan dan Disiplin Akan Berbuah Manis
"Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit."
Dengan menabung secara konsisten dan tidak menyerah, Laila berhasil mencapai target yang besar.
👨👩👧👦 3. Dukungan Keluarga Adalah Kekuatan
Keluarga bukan hanya tempat tinggal, tapi juga tempat tumbuhnya semangat dan harapan. Peran ayah, ibu, adik, dan bahkan pembantu sangat penting dalam perjalanan Laila.
🧑🌾 4. Cinta pada Lingkungan dan Hidup Sederhana
Kebun sayur dan kolam ikan menggambarkan bahwa hidup sederhana, dekat dengan alam, tetap bisa menjadi tempat tumbuhnya impian besar.
💡 5. Belajar Mandiri dan Bertanggung Jawab Sejak Dini
Laila belajar bekerja, menyisihkan uang, membantu orang tua, dan menghadapi tantangan kecil yang membentuk karakternya.
Halaman 1
Hari Senin pagi, udara masih sejuk saat Laila bangun dari tidurnya. Jam di dinding baru menunjuk angka lima lebih tiga puluh. Di luar kamar, suara ayam peliharaan Pak Jaya tetangga sebelah sudah berkokok. Laila menguap pelan, lalu turun dari ranjang kecilnya.
Hari ini ada upacara di sekolah. Ia harus pakai baju seragam putih dengan rok panjang biru tua. Sepatunya disemir ayah semalam, sekarang sudah mengilap seperti baru. Laila duduk di tepi ranjang sambil mengikat tali jilbab kecilnya yang berwarna kuning.
“Laila, udah bangun?” terdengar suara lembut dari dapur. Itu suara mama.
“Sudah, Ma!” jawab Laila riang.
Di rumah sederhana itu, pagi-pagi sudah ramai. Mama sedang menyiapkan bekal dan sarapan. Ayah masih duduk di ruang kerja kecil dekat kebun, mengecek pesanan karangan bunga di laptop-nya. Adik Laila, Rizal, masih tertidur pulas dengan boneka ayam kesayangannya.
Laila mencuci muka, lalu duduk di meja makan. Di atas meja sudah tersaji nasi hangat, telur dadar, dan sambal tempe kesukaannya. Ia makan perlahan sambil melihat ke arah jendela. Di luar, sayur kangkung dan bayam yang ditanam ayah tumbuh subur. Kolam ikan kecil di sampingnya penuh air karena semalam hujan.
Setelah sarapan, Laila memakai tas sekolah dan berdiri di depan cermin. Hari ini dia ingin semangat. Bukan hanya karena upacara. Tapi karena hari ini, Laila ingin bilang sesuatu yang sangat penting ke ayah:
“Ayah, aku ingin pergi ke luar negeri.”
Halaman 2
Laila melangkah pelan ke ruang kerja kecil di samping rumah. Di sana, ayah sedang sibuk memotret karangan bunga yang baru selesai dibuat. Kamera kecil tergantung di lehernya, dan laptop terbuka memperlihatkan halaman website jualan kambing kurban dan bunga yang ayah kelola sendiri dari rumah.
“Ayah,” panggil Laila sambil berdiri di pintu.
Ayah menoleh dan tersenyum. “Iya, Nak? Sini duduk.”
Laila mendekat, duduk di bangku kecil di sebelah meja kayu. Ia menggoyangkan kakinya pelan. Lalu, dengan suara pelan tapi penuh semangat, ia berkata, “Ayah… Laila pengin ke luar negeri. Ke Malaysia.”
Ayah mengangkat alis, lalu tertawa kecil. “Ke Malaysia? Wah, cita-cita yang keren. Kenapa ke Malaysia?”
“Karena di buku sekolah ada gambar menara tinggi banget. Namanya… Petro apa gitu, Yah…”
“Petronas?” tanya ayah.
“Iya! Itu dia!” jawab Laila senang. “Laila pengin lihat langsung. Katanya bagus banget.”
Ayah menatap Laila beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Kalau Laila benar-benar mau, berarti harus siap nabung. Soalnya ke luar negeri itu mahal. Tiket pesawat, paspor, penginapan, semua butuh uang.”
Laila mengangguk mantap. “Laila mau nabung, Yah. Nggak jajan tiap hari juga nggak apa-apa.”
Ayah tersenyum lebar. Ia menepuk kepala Laila pelan. “Kalau begitu, nanti ayah bantu bikin celengan. Kita tulis: Celengan ke Malaysia. Setuju?”
“Setujuuuu!” jawab Laila semangat. Mata kecilnya berbinar, seolah petualangan besar akan segera dimulai.
Halaman 3
Hari itu, sepulang sekolah, Laila langsung melepas sepatu dan berlari kecil ke arah dapur. Mama belum pulang dari pabrik, dan Rizal sedang bermain sepeda di halaman depan bersama si Mbak. Udara siang masih hangat, dan suara burung dari pohon jambu di samping rumah terdengar ramai.
Laila mengambil segelas air putih dari kulkas kecil, lalu duduk di kursi rotan dekat pintu belakang. Dari tempat itu, ia bisa melihat kebun kecil yang ayah tanami dengan penuh cinta. Deretan kangkung tumbuh rapat, diselingi bayam dan cabe rawit yang daun-daunnya bergoyang pelan diterpa angin. Di ujung kebun, kolam ikan berwarna hijau keabu-abuan tampak tenang, airnya memantulkan bayangan langit sore.
Tak lama kemudian, ayah datang membawa sebuah botol plastik besar bekas air mineral. Leher botol sudah dipotong, dan bagian mulutnya ditutup dengan lakban warna biru. Di sisi botol, tertempel kertas kecil berjudul besar-besar: "Celengan ke Malaysia" dengan huruf warna-warni yang ditulis tangan oleh ayah sendiri.
“Nah, ini dia celengan kita,” kata ayah sambil menyerahkan botol itu ke Laila.
Laila memeluk botol itu seolah sedang memeluk harta karun. “Terima kasih, Yah! Ini celengan paling keren sedunia!”
Ayah tertawa. “Sekarang, kita mulai isi. Punya uang saku sisa hari ini?”
Laila mengangguk, lalu merogoh saku rok birunya dan mengeluarkan dua koin lima ratusan dan satu lembar seribu. “Tiga ribu! Ini buat Malaysia!”
Ia memasukkan uang itu satu per satu ke dalam celengan. Suara logam kecil berbunyi cling cling cling, membuat hatinya senang. Seakan-akan suara itu berkata: Langkahmu baru dimulai, Laila.
Ayah duduk di sebelahnya, lalu mengambil buku tulis kecil yang sampulnya sudah usang. Di halaman pertama, ayah menulis:
Tabungan Laila - Tujuan: Malaysia
Hari ke-1: Rp3.000
“Nanti setiap kali kamu isi celengan, kita catat di buku ini. Biar kamu tahu sudah berapa yang terkumpul. Kalau sudah lima puluh juta, kita bisa mulai cari tiket!” jelas ayah sambil menggambar bendera Malaysia kecil di pojok buku.
Laila menatap angka tiga ribu di buku itu. Jumlahnya masih sangat jauh dari lima puluh juta. Tapi entah kenapa, ia tidak merasa kecil hati. Justru sebaliknya, hatinya terasa hangat dan penuh harapan.
Ia memandang kolam ikan yang tenang, lalu menengok ke langit. Awan-awan putih bergumpal seolah sedang berlayar perlahan. Dalam bayangannya, Laila melihat sebuah pesawat terbang tinggi, menuju sebuah negeri yang belum pernah ia datangi, tapi sangat ingin ia capai.
Dan di sanalah Laila mulai menapaki jalan kecilnya menuju negeri impian.
Halaman 4
Keesokan harinya, Laila bangun lebih pagi dari biasanya. Jam masih menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit, tapi ia sudah duduk di atas tempat tidur dengan mata berbinar. Hari ini hari Selasa—bukan hari upacara—tapi semangatnya tetap tinggi. Bukan karena sekolah, tapi karena ia punya rencana besar.
Setelah mandi dan berpakaian, Laila mengambil celengan botolnya dan memasukkannya ke dalam tas sekolah. Ia ingin menunjukkan celengan itu kepada teman-temannya. Siapa tahu mereka juga ingin menabung seperti dirinya.
Di perjalanan menuju sekolah, Laila berjalan kaki bersama Rizka, tetangga sekaligus sahabat sekelasnya. Mereka melewati gang kecil, rumah-rumah sederhana, dan tukang gorengan yang biasa mangkal dekat warung. Suara burung pipit dan klakson motor bersahutan, menciptakan pagi khas desa yang ramai tapi damai.
“Laila bawa apa tuh?” tanya Rizka, penasaran melihat botol besar di tas Laila yang mencuat sedikit.
“Celengan,” jawab Laila sambil tersenyum. “Namanya Celengan ke Malaysia.”
Rizka mengerutkan kening. “Malaysia? Emang kamu mau ke Malaysia?”
“Iya. Aku pengin lihat menara Petronas yang tinggi banget itu. Aku udah mulai nabung, nih. Udah tiga ribu.”
“Waaah,” Rizka melongo. “Emang ke sana perlu berapa?”
“Lima puluh juta,” jawab Laila dengan yakin, meskipun sebenarnya ia belum terlalu tahu artinya. Tapi angka itu sudah tertulis di buku ayah, jadi ia percaya.
“Lima puluh juta?!” Rizka tertawa kecil. “Itu mah buanyaaak banget. Kayaknya sampe kelas enam juga nggak cukup.”
Laila hanya tersenyum. Ia tidak tersinggung, tapi justru merasa tertantang. “Kalau nabung tiap hari bisa. Aku nggak mau jajan dulu. Uangnya buat celengan.”
Sampai di sekolah, Laila dan Rizka masuk ke kelas. Ruangan kelas MI itu sederhana. Meja kursinya dari kayu, lantainya keramik putih, dan dindingnya dihiasi gambar-gambar buatan murid. Di papan tulis sudah tertulis jadwal hari itu: Bahasa Indonesia, Matematika, dan SBK.
Saat jam istirahat, Laila mengeluarkan celengannya. Beberapa teman berkumpul dan melihat.
“Ini apaan?” tanya Dani, anak laki-laki yang suka iseng.
“Celengan. Aku nabung buat pergi ke Malaysia.”
Dani tertawa sambil menggeleng. “Mana bisa anak kecil ke luar negeri. Uangnya aja banyak. Emangnya kamu anak orang kaya?”
Laila diam. Hatinya sedikit panas, tapi ia menahan. Ia mengingat pesan ayah semalam: Kalau kamu percaya sama mimpi kamu, jangan pedulikan orang yang mengejek.
“Aku bukan orang kaya,” kata Laila pelan, “tapi aku bisa nabung. Aku mau coba.”
Anak-anak lain terdiam. Tak ada yang bicara lagi. Hanya Rizka yang duduk di sebelah Laila dan menepuk bahunya.
“Aku juga mau nabung deh. Mungkin nggak buat ke Malaysia, tapi buat beli sepatu baru.”
Laila tersenyum. Hari itu, ia merasa lebih kuat. Mimpinya mungkin besar, tapi langkah pertamanya sudah dimulai. Dan celengan kecil di tasnya kini bukan cuma tempat menyimpan uang, tapi juga tempat menyimpan harapan.
Halaman 5
Sepulang sekolah, Laila tidak langsung masuk ke rumah. Ia menaruh tas di dalam lalu keluar lagi menuju kebun kecil di samping rumah. Ayah sedang memetik cabe rawit, sambil sesekali mengecek daun-daun yang mulai layu karena panas beberapa hari terakhir. Ember besar berisi air kolam sudah siap di pinggir tanah, untuk menyiram tanaman satu per satu.
“Ayah, Laila bantuin ya,” kata Laila sambil menggulung lengan seragamnya.
Ayah menoleh dan tersenyum. “Wah, boleh banget. Tapi pelan-pelan aja, jangan sampai baju sekolahnya kena lumpur.”
Laila mengangguk, lalu mengambil gayung kecil dari ember. Ia mulai menyiram kangkung, lalu bayam. Daun-daun hijau segar itu bergoyang pelan saat air menyentuhnya. Laila merasa tenang berada di sini. Tidak ada suara tawa ejekan seperti tadi di sekolah. Di sini, hanya ada suara gemercik air, angin lembut, dan semangat kecil yang terus tumbuh dalam hatinya.
“Yah, besok Laila boleh jual kangkung ini nggak?” tanya Laila sambil menatap ayah.
“Jual?” Ayah mengerutkan dahi, penasaran.
“Iya. Buat nambah tabungan. Tadi temanku Rizka bilang mamanya suka sayur segar. Kalau Laila petik beberapa ikat dan dijual ke tetangga, boleh nggak?”
Ayah tersenyum bangga. “Boleh banget. Tapi kita atur caranya ya. Nggak usah banyak dulu. Satu atau dua ikat aja dulu, biar kamu juga belajar cara jualan yang baik.”
Laila mengangguk cepat, matanya berbinar. “Laila juga mau nulis sendiri harganya di kertas kecil, trus ditempelin kayak di pasar!”
Ayah tertawa. “Boleh. Nanti ayah carikan spidol sama kertas karton bekas.”
Setelah kebun selesai disiram, Laila dan ayah masuk ke rumah. Rizal sedang mencoba menaiki sepedanya sendiri di halaman. Ia sempat jatuh dua kali, tapi tetap tertawa dan bangun lagi. Mbak Wati, pembantu keluarga mereka, menyiapkan teh manis dan pisang goreng untuk sore hari.
“Laila tadi bantuin ayah di kebun?” tanya Mbak Wati sambil menyodorkan teh.
“Iya, Mbak. Laila mau jual kangkung,” jawab Laila penuh semangat.
“Wah, hebat! Duitnya buat apa?”
“Buat ke Malaysia,” kata Rizal sambil tertawa-tawa, meskipun ia belum benar-benar tahu Malaysia itu di mana.
Mama pulang sekitar jam lima sore. Tubuhnya terlihat lelah, tapi wajahnya tetap lembut saat melihat anak-anaknya tertawa bersama di halaman. Setelah bersih-bersih dan berganti pakaian, mama duduk di ruang tengah sambil memijat kaki.
“Ma, Laila udah mulai nabung loh,” kata Laila sambil menunjukkan celengannya.
Mama menatap botol bekas itu, lalu tersenyum. “Wah, celengannya keren. Udah berapa isinya?”
“Tiga ribu. Besok mau jual kangkung,” jawab Laila bangga.
Mama mengangguk pelan. “Mama dukung. Tapi jangan lupa belajar, mandi sore, dan tidur tepat waktu ya. Nabung boleh, mimpi juga boleh, asal jangan lupa jadi anak baik.”
“Iya, Ma!” jawab Laila sambil memeluk mama erat.
Hari itu ditutup dengan senja yang manis. Celengan kecil di atas meja mulai terasa berat, tapi hati Laila jauh lebih penuh. Di dalamnya, tersimpan bukan cuma uang receh—tapi juga restu, semangat, dan cinta dari orang-orang yang menyayanginya.
Halaman 6
Pagi berikutnya, setelah selesai sarapan, Laila berdiri di depan rumah sambil memegang dua ikat kangkung segar yang diikat rapi dengan tali rafia kecil. Daun-daunnya masih basah karena baru disiram. Di tangannya yang lain, ia memegang kertas kecil bertuliskan “Kangkung Segar - Rp2.000/ikat” yang ditulis dengan spidol merah di atas karton bekas.
“Yakin mau jual sendiri, Kak?” tanya ayah sambil membuka laptop di ruang kerjanya.
“Yakin, Yah. Rizka udah bilang tadi malam, katanya mamanya mau beli dua,” jawab Laila mantap.
“Ya sudah. Hati-hati ya. Jangan terlalu lama di luar,” pesan ayah sambil melirik jam di dinding. Masih pukul enam lebih sepuluh. Masih cukup waktu sebelum berangkat sekolah.
Laila berjalan menyusuri gang sempit di samping rumah menuju rumah Rizka. Udara pagi masih sejuk, dan beberapa tetangga terlihat sedang menyapu halaman. Beberapa menyapa Laila dengan senyum, dan ia membalasnya sopan sambil memeluk kangkung di dadanya.
Sampai di rumah Rizka, ibunya keluar menyambut.
“Wah, ini Laila ya? Mau jualan?” tanya ibu Rizka sambil terkejut senang.
“Iya, Bu. Ini kangkung dari kebun rumah. Satu ikat dua ribu,” jawab Laila sambil menyodorkan sayurannya.
Ibu Rizka tertawa kecil, lalu mengambil dua ikat. “Bagus-bagus kangkungnya. Segar sekali. Ini uangnya ya, empat ribu.”
Laila menerima uang itu dengan senyum lebar, lalu memasukkannya ke dalam saku bajunya. Hatinya terasa ringan, seolah ia baru saja memenangkan hadiah besar. “Terima kasih, Bu!”
Sebelum pulang, ia sempat bertemu dua ibu lain di jalan. Karena melihat sayurannya masih segar, mereka ikut membeli masing-masing satu ikat. Saat Laila kembali ke rumah, kangkungnya habis, dan uangnya kini bertambah jadi delapan ribu.
Ia langsung masuk ke ruang kerja ayah dan meletakkan uang itu di meja. “Yah! Laila berhasil jualan! Ini hasilnya!”
Ayah menoleh dari layar laptop dan terkekeh. “Wah, hebat! Penjual kangkung cilik sudah mulai panen.”
Laila tertawa senang. Mereka bersama-sama membuka buku tabungan kertas kecil dan menulis:
Hari ke-2: Tambahan Rp8.000
Total tabungan: Rp11.000
“Wah, sudah sebelas ribu!” kata Laila sambil berputar-putar di lantai. “Laila semakin dekat ke Malaysia!”
Mama yang sedang berdiri di dapur menoleh sambil tersenyum. “Nanti kalau tabungan Laila nambah terus, mama juga bantu tambah di akhir bulan ya. Tapi harus tetap rajin dan jujur.”
“Siap, Ma!” jawab Laila mantap.
Waktu menunjukkan pukul enam empat puluh lima. Laila bergegas ganti baju, merapikan jilbab, lalu mengenakan tas sekolahnya. Hari ini pelajaran matematika, dan Laila jadi semangat. Ia ingin bisa hitung uang lebih cepat, supaya nanti bisa tahu berapa lagi yang harus dikumpulkan.
Sebelum berangkat, ia menatap celengannya di atas lemari. Lalu berbisik pelan,
“Tunggu aku ya, Malaysia. Aku pasti datang.”
Halaman 7
Hari-hari berikutnya, Laila semakin semangat menabung. Setiap pulang sekolah, ia selalu membantu ayah di kebun—menyiram sayur, memetik daun bayam yang mulai rimbun, atau hanya memungut daun-daun kering dari tanah. Meskipun panas matahari sering membuat keringat membasahi keningnya, Laila tidak pernah mengeluh. Baginya, setiap tetes keringat itu seolah membawa langkah kecilnya lebih dekat ke negeri impian.
Ayah kini mulai rutin mencatat hasil panen mingguan, dan beberapa kali mengajak Laila ke pasar kecil di desa mereka. Di sana, Laila belajar mengenal harga sayuran, menimbang dengan timbangan manual, bahkan belajar menyapa pelanggan dengan sopan.
“Selamat pagi, Bu. Mau beli bayam segar?” begitu ia menyapa, meniru gaya ayah.
Sebagian pembeli tersenyum geli melihat gadis kecil berbaju lusuh dengan jilbab kuning dan suara penuh semangat. Tapi tak sedikit juga yang akhirnya membeli, karena mereka merasa tersentuh melihat anak sekecil itu sudah bekerja keras untuk sebuah cita-cita.
Pada suatu sore, Laila duduk di serambi rumah sambil menghitung uang yang sudah dimasukkan ke celengan. Dengan bantuan ayah, mereka membuka botol untuk pertama kalinya setelah seminggu menabung. Uang itu lalu dihitung satu per satu, terdiri dari koin receh, lembaran dua ribuan, lima ribuan, bahkan ada satu lembar sepuluh ribuan dari mama.
“Dua puluh tujuh ribu lima ratus,” ucap ayah sambil mencatat.
Laila melompat kecil. “Wah, udah hampir tiga puluh ribu! Padahal baru seminggu!”
“Betul,” kata ayah, “kalau begini terus, kamu bisa capai target dalam waktu beberapa tahun.”
Laila mengangguk pelan. Ia tahu waktunya masih lama. Tapi tak masalah. Setiap malam sebelum tidur, ia menulis sendiri di buku kecilnya:
"Hari ini aku semakin dekat ke Malaysia."
Sementara itu, Rizal si adik mulai memperhatikan apa yang dilakukan kakaknya. Ia sering duduk di lantai ruang tengah sambil memandangi Laila yang menempel gambar bendera Malaysia, pesawat, dan Menara Petronas di dinding kamarnya. Scrapbook impian itu kini menjadi hiasan utama di kamar kecil mereka.
“Kak, kalau Rizal udah gede, boleh ikut ke Malaysia?” tanya Rizal suatu malam.
Laila tertawa kecil dan mengangguk. “Boleh dong. Tapi harus bisa naik sepeda dulu, ya.”
“Udah bisa!” kata Rizal bangga sambil menunjuk sepedanya yang penuh stiker.
Laila mengusap kepala adiknya sambil tersenyum. Di tengah kehidupan sederhana mereka, keluarga kecil itu dipenuhi cinta dan dukungan. Dan meskipun langit Malaysia masih jauh, impian Laila kini terasa makin nyata—karena setiap langkah kecilnya selalu ditemani tangan-tangan yang menyayangi.
Halaman 8
Hari Sabtu pagi, matahari bersinar malu-malu di balik awan. Sekolah Laila hari ini hanya sampai jam sebelas siang. Setelah pulang, ia langsung mengganti seragam dan duduk di teras rumah sambil memandangi halaman. Rizal sedang mencoba mengayuh sepeda kecilnya mengelilingi pohon jambu. Sesekali terdengar suara, “Wussssh! Aku roket!” lalu disusul dengan tawa sendiri yang lepas.
Laila memegang buku tabungan kertasnya dan mulai menulis:
Hari ke-7: Nabung Rp5.000 hasil bantu ayah foto kambing.
Ia lalu menambahkan catatan kecil:
“Hari ini aku bantu ayah upload foto kambing di websitenya.”
Beberapa hari terakhir, Laila memang mulai terlibat dalam pekerjaan ayah. Ia membantu memegang kamera saat ayah mengambil gambar kambing di halaman belakang. Kambing-kambing itu akan dijual untuk kurban, dan ayah memajangnya di situs web dengan deskripsi yang rapi.
“Yang ini Kambing A, sehat dan jinak,” kata ayah sambil tertawa, menunjuk kambing cokelat gemuk yang sedang mengunyah rumput.
Laila mengangkat papan tulisan kecil bertuliskan “Berat 32 kg - Harga 2,9 juta.” Ia berdiri di samping kambing dan tersenyum ke kamera. Ayah memotret dan hasilnya bagus sekali.
“Bisa jadi model iklan nih,” puji ayah.
Laila tersipu malu. Tapi dalam hati ia senang. Ayah menjanjikan setiap kali bantu promosi, ia akan diberi upah kecil sebagai tambahan tabungan.
Siangnya, mama pulang lebih cepat karena hari Sabtu. Wajahnya tampak lelah, tapi tetap menyempatkan duduk bersama anak-anak di ruang tengah.
“Mama,” kata Laila pelan, “Laila udah punya tiga puluh lima ribu.”
Mama mengangkat alis. “Wah, luar biasa! Padahal baru seminggu lebih.”
Laila mengangguk bangga. “Aku nggak jajan. Aku juga bantu ayah.”
Mama menarik napas dan memeluk Laila lembut. “Mimpi itu mahal, Kak. Tapi mama percaya, kalau kamu sabar dan rajin, kamu bisa sampai ke sana.”
Laila memejamkan mata di pelukan mama. Kata-kata itu seperti pelindung hangat yang masuk ke hatinya dan menetap di sana.
Sore harinya, setelah shalat Asar, ayah mengajak Laila dan Rizal duduk di halaman belakang. Mereka membawa kertas besar dan spidol warna-warni.
“Ayah mau bikin grafik tabungan kita. Biar Laila bisa lihat langsung perkembangannya,” kata ayah.
Ia menggambar garis lurus ke atas dan membaginya menjadi sepuluh bagian. Di bawahnya ditulis angka: 0, 5 juta, 10 juta, dan seterusnya sampai 50 juta. Laila menempelkan stiker bintang kecil di titik pertama: Rp0. Lalu ditempelkan lagi di titik paling bawah setelah dihitung ulang.
“Sekarang posisi Laila ada di sini, ya. Di Rp35.000,” kata ayah.
Garisnya masih sangat pendek dibandingkan tinggi grafik. Tapi Laila tak merasa kecil hati. Ia justru merasa semangat, karena kini ia bisa melihat jalannya sendiri—meski panjang, tapi jelas.
“Pelan-pelan, tapi pasti ya, Yah,” kata Laila sambil menatap grafik impiannya.
“Iya, Kak. Tidak ada langkah yang sia-sia kalau dilakukan dengan sungguh-sungguh.”
Halaman 9
Minggu pagi datang dengan udara segar dan sinar matahari hangat yang menyelinap lewat celah-celah jendela kamar. Laila bangun lebih siang dari biasanya karena hari ini tidak ada sekolah. Setelah mencuci muka dan ganti baju, ia duduk di samping rumah, memandangi kolam ikan yang airnya mulai berkurang. Di sebelah kolam, deretan tanaman kangkung dan bayam tampak layu karena panas.
Ayah sudah duduk di tepi kolam dengan ember kosong. “Kak, mau bantu ayah isi kolam?” panggil ayah sambil menoleh.
Laila mengangguk cepat dan berlari kecil mengambil gayung. Mereka mulai mengambil air dari sumur di belakang, lalu menuangkannya ke dalam kolam sedikit demi sedikit. Ikan-ikan kecil berwarna perak berenang ke permukaan, seolah berterima kasih karena air kembali segar. Sementara itu, daun-daun terong dan cabe ikut bergoyang terkena cipratan.
“Kalau musim hujan, kita tinggal nunggu air turun sendiri ke kolam,” kata ayah sambil menyeka keringat dari dahinya. “Tapi sekarang kemarau, jadi kita harus rajin.”
Laila memandangi air yang berputar-putar di kolam. “Kangkung kita udah bisa dipanen lagi, Yah. Besok Laila jual ke Bu Risma lagi, ya?”
“Boleh, Kak. Tapi pelan-pelan, ya. Semalam Mama bilang kamu agak batuk.”
“Nggak apa-apa, kok. Nggak berat juga, cuma dua ikat,” jawab Laila sambil tersenyum.
Selesai membantu ayah, Laila masuk ke dapur. Mama sedang menggoreng tempe dan menyiapkan nasi uduk untuk sarapan keluarga. Bau harum santan dan daun pandan memenuhi rumah kecil itu.
“Kakak bantu iris timun ya?” tanya mama sambil tersenyum.
“Mau, Ma.” Laila mengambil pisau kecil dan mulai mengiris dengan hati-hati, seperti yang pernah diajarkan mama. Sementara itu, Rizal datang berlari dari depan rumah sambil mendorong sepedanya.
“Maaa! Rizal tadi bisa belok dua kali!” seru Rizal bangga.
Mama tertawa, lalu mengusap kepala Rizal. “Hebat anak Mama. Kakaknya juga hebat, hari ini udah bantu ayah dan bantu Mama.”
Laila tersenyum sambil terus mengiris mentimun. Walau sederhana, pagi itu terasa sempurna. Di tengah dapur mungil dengan suara wajan mendesis dan tawa adik yang riang, Laila merasa hangat.
Setelah sarapan, Laila duduk di kamarnya. Di pangkuannya ada buku tabungan kecil yang mulai penuh tulisan. Ia menulis:
“Hari Minggu: bantu ayah isi kolam dan nyiram sayur. Tabungan belum nambah, tapi kerja keras juga termasuk langkah penting.”
Lalu ia membuka scrapbook impiannya. Gambar Menara Petronas menempel di pojok kanan atas. Di bawahnya, Laila menempel foto pesawat yang ia gunting dari majalah bekas, lalu menulis dengan spidol:
“Aku percaya, suatu hari akan berada di sini.”
Dan di setiap kalimat yang ia tulis, Laila makin yakin: impian besar bisa tumbuh dari kebun kecil di samping rumah, dari air kolam yang diisi ember demi ember, dan dari recehan yang dikumpulkan hari demi hari.
Halaman 10
Senin pagi kembali datang. Udara masih dingin saat Laila mengenakan seragam putih dan jilbab kuningnya. Hari ini ada upacara, jadi ia bangun lebih awal. Mama sedang sibuk menyiapkan bekal di dapur, sementara ayah duduk di depan laptop sambil mengetik cepat.
“Kakak udah siap?” tanya mama dari dapur.
“Udah, Ma. Tinggal sarapan,” jawab Laila sambil memeriksa kaus kakinya.
Ia duduk di meja makan dan mulai menyendok nasi goreng buatan mama. Di atas piring, ada potongan telur dadar dan irisan mentimun yang dia iris sendiri kemarin. Laila makan cepat karena tak ingin terlambat ke sekolah.
Sebelum berangkat, ia menyempatkan diri menatap celengan botolnya yang kini ditaruh di rak buku. Meski belum diisi lagi sejak dua hari lalu, ia merasa tetap semangat. Di samping celengan, grafik buatan ayah masih tergantung di dinding kamar, dengan bintang kecil yang menempel di titik Rp35.000.
“Kak, semangat ya sekolahnya,” kata ayah sambil mengantar sampai ke depan pintu.
“Iya, Yah!” Laila menjawab sambil memakai sepatu.
Ia berjalan kaki bersama Rizka menuju sekolah. Di perjalanan, mereka melewati jalan sempit yang biasa mereka lalui setiap hari. Namun pagi ini, Laila membawa sesuatu yang berbeda: secarik kertas kecil bertuliskan Jadwal Nabung Mingguan. Ia menulis sendiri jadwal itu di akhir pekan kemarin, dengan warna-warni spidol.
“Aku udah buat jadwal nabung loh,” kata Laila sambil memperlihatkan kertasnya ke Rizka.
Rizka membaca cepat. “Senin sampai Rabu nabung sisa uang jajan. Kamis jual kangkung. Jumat bantu ayah. Sabtu libur. Minggu recap dan doa.” Rizka tertawa. “Kamu kayak orang dewasa aja.”
“Biar impianku juga dianggap serius,” jawab Laila bangga.
Saat upacara berlangsung, Laila berdiri rapi di barisan depan. Matahari pagi mulai terasa hangat di kulit, tapi Laila tetap berdiri tegak. Di dadanya, ia menyimpan tekad yang lebih kuat daripada kemarin.
Di kelas, Laila makin semangat belajar. Saat pelajaran Matematika, ia paling cepat menghitung soal penjumlahan dan pengurangan. Saat pelajaran Bahasa Indonesia, ia menulis cerita pendek tentang "Anak yang Pergi ke Negara Jiran." Guru sempat membacakan ceritanya di depan kelas dan semua teman bertepuk tangan.
Sepulang sekolah, Laila berlari ke rumah. Ia langsung menuju kebun di samping rumah untuk memeriksa kangkung. Daunnya sudah segar kembali, dan batangnya cukup panjang untuk dipanen.
“Yah! Laila panen lagi ya besok?” teriak Laila dari samping rumah.
Ayah muncul dari balik pintu sambil membawa kamera. “Boleh, Kak. Tapi sore ini bantu ayah dulu ya. Ada pesanan kambing dari pembeli di Bandung. Kita harus foto satu-satu.”
“Okeee!” jawab Laila semangat.
Sore itu, Laila kembali membantu ayah di halaman depan, memotret kambing satu per satu. Ayah memintanya berdiri sambil memegang papan harga. Laila berdiri sambil tersenyum, meski kakinya mulai pegal.
Setelah semua selesai, ayah memberikan dua lembar lima ribuan.
“Ini buat Kakak. Terima kasih udah bantu ayah kerja.”
Laila menatap uang itu. “Sepuluh ribu! Wah, celenganku nambah lagi!”
Malam harinya, setelah belajar dan menyiapkan buku untuk besok, Laila menuliskan di buku tabungan:
Hari ke-10: Tambahan Rp10.000 dari bantu foto kambing. Total: Rp45.000
Ia memandangi angka itu lama. Hatinya penuh harap. Kini hanya tinggal lima ribu lagi untuk mencapai Rp50.000. Angka kecil memang, tapi buat Laila, itu seperti menjejak langkah pertamanya ke negeri impian.